Sunday, November 1, 2015

Tugas Bahasa Indonesia - Ejaan Yang Disempurnakan



EJAAN YANG DISEMPURNAKAN





Disusun oleh
Feni septiani
23113404
3KB01



FAKULTAS ILMU KOMPUTER
JURUSAN SISTEM KOMPUTER
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015/2016


KATA PENGANTAR

            Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa berkat karunianya penulis dapat menyelesaikan makalah kedua mengenai bahasa yang lebih difokuskan pada ejaan yang disempurnakan (EYD).
            Tentunya makalah ini masih jauh dari kata sempurna, namun penulis berharap apa yang penulis tulis dimakalah ini bisa membantu pembaca agar lebih memahami mengenai ejaan pada bahasa Indonesia.
            Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada para rekan-rekan yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna bagi pembaca yang membutuhkan informasi mengenai ejaan yang disempurnakan pada bahasa Indonesia.



Penulis



DAFTAR ISI
Kata Pengantar...........................................................................................................................ii
Daftar Isi...................................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.....................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................................1
1.3 Tujuan...................................................................................................................................1
1.4 Manfaat.................................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................3
2.1 Pengertian Ejaan...................................................................................................................3
2.2 Jenis-jenis Ejaan...................................................................................................................3
2.3 Pemakaian Tanda Baca........................................................................................................6
BAB III PENUTUP..................................................................................................................14
3.1 Kesimpulan.........................................................................................................................14
3.2 Saran...................................................................................................................................14
Daftar Pustaka...........................................................................................................................iv



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Bahasa merupakan sarana yang digunakan masyarakat untuk saling berkomunikasi. Dimana/kapan/siapa pasti menggunakan bahasa masing-masing untuk berkomunikasi. Perbedaan bahasa ditiap negara/kota/desa sehingga memerlukan bahasa yang bisa dimengerti agar dapat saling berkomunikasi. Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang digunakan untuk berkomunikasi antarnegara. Dan bahasa Indonesia adalah bahasa internasional yang digunakan untuk berkomunikasi antardaerah.

Tentu saja dalam berkomunikasi sehari-hari akan sangat berbeda jika kita ingin menulis sebuah cerita/karangan ilmiah/pidato dan lain sebagainya. Jika dalam percakapan kita bisa menggunakan bahasa informal untuk teman sebaya, maka jika kita berbicara dengan orang yang memiliki kekuasaan kita akan berbicara secara formal. Dan jika kita menulis maka kita akan menggunakan bahasa baku untuk tulisan seperti penelitian ilmiah. Dan kita bisa juga menggunakan bahasa sehari-hari untuk menulis sebuah novel atau komik.

1.2  Rumusan Masalah

1)            Apa yang dimaksud dengan ejaan?
2)            Jelaskan jenis-jenis ejaan!
3)            Jelaskan macam-macam dan fungsi dari tanda baca beserta aturan letak penggunaan!
4)            Bagaimana cara penggunaan tanda baca yang baik dan benar?

1.3  Tujuan

1)           Untuk mengetahui pengertian ejaan.
2)           Mengetahui jenis-jenis ejaan.
3)           Dapat menjelaskan tentang ejaan suwandi.
4)           Dapat menjelaskan tentang ejaan Melindo ( Melayu – Indonesia ).
5)           Dapat menjelaskan tentang Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
6)           Dapat memahami fungsi dari macam-macam tanda baca yang ada.
7)           Dapat memahami tata cara dan letak dalam penggunaan tanda baca.
8)           Dapat membuat sebuah karya tulis dengan tanda baca yang baik dan benar.

1.4  Manfaat
1)            Mengetahui pengertian ejaan.
2)            Mengetahui jenis-jenis ejaan.
3)            Memahami fungsi dan macam-macam tanda baca.
4)            Memahami tata cara dan letak dalam penggunaan tanda baca.
5)            Membuat sebuah karya tulis dengan tanda baca yang baik dan benar.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ejaan

Ejaan ialah penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis-menulis yang
distandardisasikan. Lazimnya, ejaan mempunyai tiga aspek, yakni aspek
fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan
penyusunan abjad aspek morfologi yang menyangkut penggambaran
satuan-satuan morfemis dan aspek sintaksis yang menyangkut penanda
ujaran tanda baca (Badudu, 1984:7). Keraf (1988:51) mengatakan bahwa
ejaan ialah keseluruhan peraturan bagaimana menggambarkan
lambang-lambang bunyi ujaran dan bagaimana interrelasi antara
lambang-lambang itu (pemisahannya, penggabungannya) dalam suatu
bahasa. Adapun menurut KBBI (1993:250) ejaan ialah kaidah-kaidah cara
menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk
tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca. Dengan demikian,
secara sederhana dapat dikatakan bahwa ejaan adalah seperangkat kaidah
tulis-menulis yang meliputi kaidah penulisan huruf, kata, dan tanda
baca.

Ejaan suatu bahasa tidak saja berkisar pada persoalan bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujaran serta bagaimana menempatkan tanda-tanda baca dan sebagainya, tetapi juga meliputi hal-hal seperti: bagaimana menggabungkan kata-kata, baik dengan imbuhan-imbuhan maupun antara kata dengan kata. Pemotongan itu berguna terutama bagaimana kita harus memisahkan huruf-huruf itu pada akhir suatu baris, bila baris itu tidak memungkinkan kita menulils seluruh kata di sana. Apakah kita harus memisahkan kata bunga menjadi bu – nga atau b – unga . Semuanya ini memerlukan suatu peraturan umum, agar jangan timbul kesewenangan.

2.2 Jenis-jenis Ejaan

      a. Ejaan Van Ophusyen
Ejaan Van Ophusyen juga disebut ejaan balai pustaka. Masyarakat menggunakannya pada tahun 1901 sampai 1947. Ejaan ini merupakan ejaan karya Ch.A. Van Ophusyen yang dimuat dalam kitab Logat Melayoe(1901).
Ciri khusus ejaan Van Ophusyen :
v  Huruf /u/ ditulis /oe/
v Koma hamzah /k/ ditulis dengan tanda /’/ pada akhir kata, misalnya bapa’, ta’
v Jika pada suatu kata berakhiran huruf /a/ mendapat akhiran /i/ maka diatas akhiran itu diberi tanda trema /”/
v Huruf /e/ yang pelafalannya keras diberi tanda /’/ di atasnya. Contoh pada kata /emek/ ditulis /ema’/
v Kata ulang diberi angka 2, misalnya: janda2 (dibaca: janda-janda)
v Kata majemuk ditulis dengan tiga cara :
a)     Dirangkai menjadi satu, misalnya /hoeloebalang, apabila/, dsb
b)    Dengan menggunakan tanda penghubung misalnya /rumah-sakit/,/anak- negeri/
c)     Dipisahkan, misalnya /anak negeri/ , .rumah sakit/

     b.  Ejaan Republik/Ejaan Suwandi
Ejaan Republik dimuat dalam surat keputusan Menteri P dan K, Mr. Soewandi No. 264/Bhs. A tanggal 19 Maret 1947 oleh sebab itu ejaan ini disebut Ejaan Suwandi. Sistem ejaan Suwandi merupakan sistem ejaan latin untuk Bahasa Indonesia. Pada dasarnya ejaan ini sama dengan Van Ophusyen, hanya saja ada beberapa penyederhanaan dan perubahan.
Ciri khusus ejaan Republik / Suwandi dalah sebagai berikut :
v Huruf /oe/ dalam ejaan Van Ophusyen berubah menanda /u/
v Tanda trema pada huruf a dan I dihilangkan.
v Koma ain dan koma hamzah dihilangkan. Koma hamzah ditulis dengan /k/ misalnya kata’ menjadi katak.
v Huruf /e/ keras dan /e/ lemah ditulis tidak menggunakan tanda, misalnya ejaan, seekor, dsb.
v Penulisan kata majemuk dapat dilakukan dengan tiga cara. Contohnya :
a)     Tata laksana
b)    Tata-laksana
c)     Tatalaksana
v Kata yang berasal dari bahasa asing yang tidak menggunakan /e/ lemah (pepet) dalam bahasa indoneia ditulis tidak menggunakan /e/ lemah. Misalnya : /putra/ bukan /putera/, /praktek/ bukan /peraktek/

      c. Ejaan Malindo
Ejaan Malindo (melayu-indonesia) adalah suatu ejaan dari perumusan ejaan melayu dan Indonesia. Perumusan ini berangkat dari konggres bahasa Indonesia II tahun 1954 diMedan, Sumatra Utara. Kemudian pada tahun 1959 dirumuskan Ejaan Malindo tersebut. Sayangnya, Ejaan Malindo belum sempat diterapkan dalam kegiatan sehari-hari karena saat itu terjadi konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia.

     d.  Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan penyempurrnaan dari ejaan-ejaan sebelumnya. EYD diresmikan pada saat pidato kenegaraan memperingati HUT Kemerdekaan RI XXVII, 17 Agustus 1972. Kemudian dikukuhkan dalam Surat Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972. EYD ini hasil kerja panitia ejaan Bahasa Indonesia yang dibentuk pada tahun 1966.
v  Gabungan kata yang sudah dianggap senyawa (satu kata) ditulis serangkai. Contohnya : Akhirulkalam, Assamualaikum, hulubalang, matahari, dsb.
v  Kata ganti ku, mu, kau, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang dimiliki.
Contohnya : kumiliki, dipukul, barangmu, pacarku, pacarnya, dsb.
v  Kata depan di dan ke ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contohnya :
Bentuk Benar
Bentuk Salah
Di surabaya
Disurabaya
Ke singapura
Kesingapura
Di kebun
Dikebun
Ke sini
Kesini
Ke sana
Kesana
Di sini
Disini
v  Partikel pun terpisah dari kata yang mendahuluinya, kecuali pun yang sudah menjadi kelompok kata.
Contohnya :
a)      Kapan pun Aku tetap menantinya.
b)      Siapa pun orangnya, boleh meminjam buku ini.
c)      Walaupun seribu tahun Aku tetap menunggu. (walaupun adalah kelompok kata).
d)     Meskipun demikian aku tak akan marah. (meskipun merupakan kelompok kata).
v  Penulisang si dan sang dipisahkan dari kata yang mengikutinya.
Contohnya :
a)      Si penjual bakso bukan sipenjual bakso.
b)      Si pengirim bukan sipengirim.
v  Partikel per berarti tiap-tiap dipisahkan dari kata yang mengikutinya.
Contohnya :
a)      Per orang bukan perorang.
b)      Per lembar bukan perlembar.
c)      Per kilogram bukan perkilogram.

2.3 Pemakaian Tanda Baca
Dalam hal pembuatan karangan ilmiah, kesalahan huruf dan tanda baca sering muncul. Dan di dalam penulisan tanda baca sering sekali kita lupakan dan melakukan kesalahan dalam penulisanya. Sehingga menjadikan karangan atau karya ilmiah kita menjadi sebuah karya yang kurang baik karena ada kesalahan dalam penulisanya.
Dari berbagai kesalahan itu, sebenarnya para penulis karya ilmiah mampu untuk membuat tulisanya, akan tetapi mereka sering lalai dan ceroboh dalam penggunaan tanda baca. Karena tanda baca selalu di anggap sepele dalam penggunaanya sehingga kadang menjadikan kalimat itu menjadi rancu dan berbeda arti.
Suatu contoh kita ambil kalimat “kucing makan tikus mati”. Dalam konteks kalimat ini jika tidak kita beri pemisah tanda baca maka akan menjadikanya sulit untuk dipahamai. Dari kalimat “kucing makan tikus mati” siapakah yang mati dalam konteks kalimat ini?, akan tetapi apabila kita ganti konteks kalimat ini dengan pemberian tanda baca seperti ini ”kucing makan, tikus mati”, siapakah yang mati dalam konteks kalimat ini?, kemudian apabila kita gunakan konteks kalimat ini ”kucing makan tikus, mati”, siapakah yang mati dalam konteks kalimat ini?.
Kucing makan tikus mati adalah salah satu contoh kalimat yang banyak persepsi apabila kita salah menggunakan tanda bacanya. Oleh karena itu, pemakaian tanda baca dalam penyusunan kalimat sangat perlu untuk diperhatikan.
v   Macam-macam tanda baca
·         Tanda titik ( . )
·         Tanda koma ( , )
·         Tanda titik dua ( : )
·         Tanda Tanya ( ? )
·         Tanda seru (!)
·         Tanda kurung ( (…) )
·         Tanda petik ganda ( “…” )
·         Tanda garis miring ( / )
·         Tanda elipsis
·         Tanda pisah
·         Tanda hubung
·         Tanda Kurung Siku ([...])
·         Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)
v   Fungsi tanda baca
·         Tanda Titik (.)
Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Misalnya: Ayahku tinggal di Solo. Biarlah mereka duduk di sana. Dia menanyakan siapa yang akan datang.
Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Catatan:
Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan waktu dan jangka waktu. Misalnya: pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik), 1.35.20 jam ( 1 jam, 35 menit, 20 detik), 0.20.30 jam (20 menit, 30 detik), 0.0.30 jam (30 detik).
Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka. Misalnya: Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltervreden: Balai Poestaka.
·         Tanda Koma (,)
Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. Misalnya: Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat serata berikutnya yang didahului oleh kata sepertitetapi atau melainkan. Misalnya: Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya. Misalnya: Kalau hari hujan, saya tidak akan datang. Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya. Misalnya: Saya tidak akan datang kalau hari hujan. Dia lupa akan janjinya karena sibuk. Dia tahu bahwa soal itu penting.
Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula,meskipun begitu, akan tetapi. Misalnya: ... Oleh karena itu, kita harus hati-hati. ... Jadi, soalnya tidak semudah itu.
·         Tanda Titik Dua (:)
Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian. Misalnya, Ketua : Moch. Achyar, Sekretaris : Tati Suryati, Bendahara : Noviana Pertiwi.
Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara surah dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan. Misalnya: (v) Tempo, I (34), 1971:7 (vi) Surah Yasin:9 (vii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit. (viii) Marzuki dan Rudy W. 2006. Pembuatan Aneka Kerupuk. Jakarta: Penebar Swadaya.
Titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan. Misalnya, Ayah : “Karyo, sini kamu!”, Karyo : (datang menghampiri) “Ada apa, Pak?”, Ayah : “Tolong ambilkan sepatu hitam yang di atas lemari!”.
Titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Misalnya, Pak Adi mempunyai tiga orang anak: Ardi, Aldi, dan Asdi. Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
·         Tanda Tanya (?)
Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya. Misalnya, Kapan ia berangkat? Saudara tahu, bukan?
Tanda tanya dipakai di dalam kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan kebenarannya. Misalnya, Ia dilahirkan pada tahun 1983 (?). Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.
·         Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai pada akhir kalimat printah. Misalnya, Bersihkan kamar itu sekarang juga! Jangan berisik!
Tanda seru dipakai pada akhir ungkapan atau pernyataan yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ketakjuban, ataupun rasa emosi yang kuat. Misalnya, Alangkah seramnya peristiwa itu! Indah sekali pemandangan alam ini! Merdeka!
·         Tanda Kurung ((...))
Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan. Misalnya, Komisi A telah selesai menyusun GBPK (Garis-Garis Besar Program Kerja) dalam sidang pleno tersebut.
Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. Misalnya, Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan perkembangan per-ekonomian Indonesia lima tahun terakhir.
Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan. Misalnya, Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja dan (c) modal.
·         Tanda Petik (“...”)
Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lainnya. Misalnya, “Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!” Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”
Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. Misalnya, Sajak “Berdiri Aku” terdaapat pada halaman 5 buku itu. Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di SMA” diterbitkan dalam harian Tempo.
Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. Misalnya, Saat ini ia sedang tidak mempunyai pacar yang di kalangan remaja dikenal dengan “jomblo”. Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “si Hitam”.
·         Tanda Garis Miring (/)
Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim. Misalnya, No. 12/PK/2005 Jalan Kramat III/10 Masa Bakti 2005/2006 Tahun Ajaran 2006/2007.
Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap. Misalnya, Laki-laki/Perempuan, 120 km/jam
·         Tanda Hubung (-)
Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar atau kata berimbuhan yang terpisah oleh pergantian baris. Misalnya, Walaupun demikian, masih banyak yang ti-dak mematuhi peraturan tersebut.
Industri tersebut dapat dikembangkan men-jadi industri padat karya.
Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang. Misalnya, Anak-anak, kupu-kupu, berulang-ulang, kemerah-merahan, mondar-mandir, sayur-mayur.
Tanda hubung menyambung huruf dari kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal. Misalnya, p-a-n-i-t-i-a, 17-08-1945.
Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan kata dengan kata berikutnya atau sebelumnya yang dimulai dengan huruf kapital, kata/huruf dengan angka, angka dengan kata/huruf. Misalnya, se-Indonesia, se-Jabodetabek, mem-PHK-kan, sinar-X, peringkat ke-2, S-1, tahun 50-an.
Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing. Misalnya, di-smash, pen-tackle-an.
·         Tanda Pisah
Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat. Misalnya, Kemerdekaan bangsa itu––saya yakin akan tercapai––diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas. Misalnya, Rangkaian temuan ini––evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom––telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau kata dengan arti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’. Misalnya, 2004––2009, tanggal 1––10 Mei 2007, Jakarta––Bandung.
·         Tanda Elipsis (...)
Tanda elipsis dipakai dalam kalimat atau dialog yang terputus-putus. Misalnya, Kalau begitu ... ya, ayo kita berangkat.
Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan. Misalnya, ... selanjutnya akan di bawa ke pengadilan. Ibu baru pulang ... pasar.
Catatan:
Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, maka perlu dipakai empat buah titik; tiga titik untuk menandai penghilangan teks dan satu titik untuk menandai akhir kalimat. Misalnya: Ibu baru pulang dari....
·         Tanda Kurung Siku ([...])
Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai korekssi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli. Misalnya, Sang Puteri men[d]engar bunyi gemerisik.
Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung. Misalnya, Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35––38]) perlu dibentangkan di sini.
·         Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)
Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun. Misalnya, Gunung pun ‘kan kudaki. (‘kan = akan)
17 Agustus ’45 (’45 = 1945)
.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Ejaan ialah penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis-menulis yang
distandardisasikan. Ejaan mempunyai fungsi
, landasan pembakuan tata bahasa, landasan pembakuan kosakata dan peristrilahan dan alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia. Di samping itu, ejaan mempunyai fungsi praktis yaitu membantu pemahaman pembaca di dalam mencerna informasi yang disampaikan secara tertulis.

Penggunaan tanda baca perlu diperhatikan dalam penulisan karya tulis atau karya ilmiah. Masing masing tanda baca memiliki aturan dan tata letak penggunaanya, sehingga kita harus cermat dalam menggunakan tanda baca dan menempatkan tanda baca pada aturan yang telah di tetapkan. Penggunaan ejaan yang disempurnakan (EYD) sangat dibutuhkan dalam penulisan karya tulis ilmiah agar sebuah karya tulis ilmiah tersebut dapat tersusun dengan baik dan mudah dipahami.

3.2 Saran

Perhatikan kembali ejaan yang digunakan dalam sebuah penulisan, baik dalam karya tulis berbentuk ilmiah ataupun tulisan cerita pendek biasa. Karena ejaan dapat mempengaruhi makna dalam sebuah tulisan.
 



DAFTAR PUSTAKA

1 comment:

  1. Ich bin Black Rambo von Grammy, ich arbeite im Grammy Camp, Meine Frau starb vor 6 Jahren und seit ich mich um meinen einzigen Sohn namens Clinton, einen Freund meines Rats, nach einer Frau zu suchen, auf meiner Suche traf ich Jennifer sie war und Englische Frau, Ich liebte sie so sehr, dass ich ihr alles geben konnte, was sie im Alter von 37 Jahren war, nach einiger Zeit der Dating war ich so sehr in sie verliebt, hatten wir einige Missverständnisse, und sie trennte sich von mir und ich flehte sie an, dass mein Sohn sie zurückrief, sagte sie nein, dass sie jemand anderen gefunden hat, und wir lieben uns so sehr, nachdem ich einen Artikel darüber gelesen habe, wie Dr. Lomi helfen kann, die zerbrochene Beziehung zurückzubringen. , Ich beschloss, einen Versuch zu geben, ich kontaktiere Dr. Lomi für Hilfe, er sagte mir, was zu tun, um meine Geliebte zurückzubringen, die ich tat, er tat die Gebete und Jennifer war zurück, sie liebt mich und schätzen mich mehr jetzt, und wir haben die beste Zeit unseres Lebens, Dr. Lomi bereiten auch einige natürliche Kräuter, die mich stark und gesund wieder jetzt machte ich fühle mich wie ein junger Mann Ich fühlte mich wie ein junger Mann Ich zufrieden sie sexuell sehr gut sind wir beide glücklich, kontaktieren Sie Dr. Lomi auf WhatsApp Nummer +2349034287285 oder mailen Sie ihm auf lomiultimatetemple@gmail.com HE HAT DIE BESTE LÖSUNG FÜR SIE.

    ReplyDelete