EJAAN YANG DISEMPURNAKAN
Disusun oleh
Feni septiani
23113404
3KB01
FAKULTAS ILMU KOMPUTER
JURUSAN SISTEM KOMPUTER
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji
syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa berkat karunianya penulis dapat
menyelesaikan makalah kedua mengenai bahasa yang lebih difokuskan pada ejaan
yang disempurnakan (EYD).
Tentunya
makalah ini masih jauh dari kata sempurna, namun penulis berharap apa yang
penulis tulis dimakalah ini bisa membantu pembaca agar lebih memahami mengenai
ejaan pada bahasa Indonesia.
Terima
kasih yang sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada para rekan-rekan yang telah
membantu dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna bagi
pembaca yang membutuhkan informasi mengenai ejaan yang disempurnakan pada
bahasa Indonesia.
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar...........................................................................................................................ii
Daftar Isi...................................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
1.1 Latar
Belakang.....................................................................................................................1
1.2 Rumusan
Masalah................................................................................................................1
1.3
Tujuan...................................................................................................................................1
1.4
Manfaat.................................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................3
2.1 Pengertian
Ejaan...................................................................................................................3
2.2 Jenis-jenis
Ejaan...................................................................................................................3
2.3 Pemakaian Tanda
Baca........................................................................................................6
BAB III PENUTUP..................................................................................................................14
3.1
Kesimpulan.........................................................................................................................14
3.2
Saran...................................................................................................................................14
Daftar Pustaka...........................................................................................................................iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan
sarana yang digunakan masyarakat untuk saling berkomunikasi. Dimana/kapan/siapa
pasti menggunakan bahasa masing-masing untuk berkomunikasi. Perbedaan bahasa
ditiap negara/kota/desa sehingga memerlukan bahasa yang bisa dimengerti agar
dapat saling berkomunikasi. Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang
digunakan untuk berkomunikasi antarnegara. Dan bahasa Indonesia adalah bahasa
internasional yang digunakan untuk berkomunikasi antardaerah.
Tentu saja dalam
berkomunikasi sehari-hari akan sangat berbeda jika kita ingin menulis sebuah
cerita/karangan ilmiah/pidato dan lain sebagainya. Jika dalam percakapan kita
bisa menggunakan bahasa informal untuk teman sebaya, maka jika kita berbicara
dengan orang yang memiliki kekuasaan kita akan berbicara secara formal. Dan
jika kita menulis maka kita akan menggunakan bahasa baku untuk tulisan seperti
penelitian ilmiah. Dan kita bisa juga menggunakan bahasa sehari-hari untuk
menulis sebuah novel atau komik.
1.2 Rumusan Masalah
1)
Apa yang
dimaksud dengan ejaan?
2)
Jelaskan
jenis-jenis ejaan!
3)
Jelaskan
macam-macam dan fungsi dari tanda baca beserta aturan letak penggunaan!
4)
Bagaimana cara
penggunaan tanda baca yang baik dan benar?
1.3 Tujuan
1)
Untuk mengetahui
pengertian ejaan.
2)
Mengetahui
jenis-jenis ejaan.
3)
Dapat menjelaskan
tentang ejaan suwandi.
4)
Dapat
menjelaskan tentang ejaan Melindo ( Melayu – Indonesia ).
5)
Dapat
menjelaskan tentang Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
6)
Dapat memahami
fungsi dari macam-macam tanda baca yang ada.
7)
Dapat memahami
tata cara dan letak dalam penggunaan tanda baca.
8)
Dapat membuat
sebuah karya tulis dengan tanda baca yang baik dan benar.
1.4 Manfaat
1)
Mengetahui
pengertian ejaan.
2)
Mengetahui
jenis-jenis ejaan.
3)
Memahami fungsi
dan macam-macam tanda baca.
4)
Memahami tata
cara dan letak dalam penggunaan tanda baca.
5)
Membuat sebuah
karya tulis dengan tanda baca yang baik dan benar.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Ejaan
Ejaan ialah
penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis-menulis yang
distandardisasikan. Lazimnya, ejaan mempunyai tiga aspek, yakni aspek
fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan
penyusunan abjad aspek morfologi yang menyangkut penggambaran
satuan-satuan morfemis dan aspek sintaksis yang menyangkut penanda
ujaran tanda baca (Badudu, 1984:7). Keraf (1988:51) mengatakan bahwa
ejaan ialah keseluruhan peraturan bagaimana menggambarkan
lambang-lambang bunyi ujaran dan bagaimana interrelasi antara
lambang-lambang itu (pemisahannya, penggabungannya) dalam suatu
bahasa. Adapun menurut KBBI (1993:250) ejaan ialah kaidah-kaidah cara
menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk
tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca. Dengan demikian,
secara sederhana dapat dikatakan bahwa ejaan adalah seperangkat kaidah
tulis-menulis yang meliputi kaidah penulisan huruf, kata, dan tanda
baca.
distandardisasikan. Lazimnya, ejaan mempunyai tiga aspek, yakni aspek
fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan
penyusunan abjad aspek morfologi yang menyangkut penggambaran
satuan-satuan morfemis dan aspek sintaksis yang menyangkut penanda
ujaran tanda baca (Badudu, 1984:7). Keraf (1988:51) mengatakan bahwa
ejaan ialah keseluruhan peraturan bagaimana menggambarkan
lambang-lambang bunyi ujaran dan bagaimana interrelasi antara
lambang-lambang itu (pemisahannya, penggabungannya) dalam suatu
bahasa. Adapun menurut KBBI (1993:250) ejaan ialah kaidah-kaidah cara
menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk
tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca. Dengan demikian,
secara sederhana dapat dikatakan bahwa ejaan adalah seperangkat kaidah
tulis-menulis yang meliputi kaidah penulisan huruf, kata, dan tanda
baca.
Ejaan suatu
bahasa tidak saja berkisar pada persoalan bagaimana melambangkan bunyi-bunyi
ujaran serta bagaimana menempatkan tanda-tanda baca dan sebagainya, tetapi juga
meliputi hal-hal seperti: bagaimana menggabungkan kata-kata, baik dengan
imbuhan-imbuhan maupun antara kata dengan kata. Pemotongan itu berguna terutama
bagaimana kita harus memisahkan huruf-huruf itu pada akhir suatu baris, bila
baris itu tidak memungkinkan kita menulils seluruh kata di sana. Apakah kita
harus memisahkan kata bunga menjadi bu – nga atau b – unga . Semuanya ini
memerlukan suatu peraturan umum, agar jangan timbul kesewenangan.
2.2
Jenis-jenis Ejaan
a. Ejaan Van Ophusyen
Ejaan Van Ophusyen juga disebut ejaan balai pustaka.
Masyarakat menggunakannya pada tahun 1901 sampai 1947. Ejaan ini merupakan
ejaan karya Ch.A. Van Ophusyen yang dimuat dalam kitab Logat Melayoe(1901).
Ciri khusus ejaan Van Ophusyen :
v Huruf /u/ ditulis /oe/
v Koma hamzah /k/ ditulis dengan tanda /’/ pada akhir
kata, misalnya bapa’, ta’
v Jika pada suatu kata berakhiran huruf /a/ mendapat
akhiran /i/ maka diatas akhiran itu diberi tanda trema /”/
v Huruf /e/ yang pelafalannya keras diberi tanda /’/
di atasnya. Contoh pada kata /emek/ ditulis /ema’/
v Kata ulang diberi angka 2, misalnya: janda2 (dibaca:
janda-janda)
v Kata majemuk ditulis dengan tiga cara :
a) Dirangkai menjadi satu, misalnya /hoeloebalang,
apabila/, dsb
b) Dengan menggunakan tanda penghubung misalnya
/rumah-sakit/,/anak- negeri/
c) Dipisahkan, misalnya /anak negeri/ , .rumah sakit/
b.
Ejaan
Republik/Ejaan Suwandi
Ejaan Republik dimuat dalam surat keputusan Menteri
P dan K, Mr. Soewandi No. 264/Bhs. A tanggal 19 Maret 1947 oleh sebab itu ejaan
ini disebut Ejaan Suwandi. Sistem ejaan Suwandi merupakan sistem ejaan latin
untuk Bahasa Indonesia. Pada dasarnya ejaan ini sama dengan Van Ophusyen, hanya
saja ada beberapa penyederhanaan dan perubahan.
Ciri khusus ejaan Republik / Suwandi dalah sebagai
berikut :
v Huruf /oe/ dalam ejaan Van Ophusyen berubah menanda
/u/
v Tanda trema pada huruf a dan I dihilangkan.
v Koma ain dan koma hamzah dihilangkan. Koma hamzah
ditulis dengan /k/ misalnya kata’ menjadi katak.
v Huruf /e/ keras dan /e/ lemah ditulis tidak
menggunakan tanda, misalnya ejaan, seekor, dsb.
v Penulisan kata majemuk dapat dilakukan dengan tiga
cara. Contohnya :
a) Tata laksana
b) Tata-laksana
c) Tatalaksana
v Kata yang berasal dari bahasa asing yang tidak
menggunakan /e/ lemah (pepet) dalam bahasa indoneia ditulis tidak menggunakan
/e/ lemah. Misalnya : /putra/ bukan /putera/, /praktek/ bukan /peraktek/
c. Ejaan Malindo
Ejaan Malindo (melayu-indonesia) adalah suatu ejaan
dari perumusan ejaan melayu dan Indonesia. Perumusan ini berangkat dari
konggres bahasa Indonesia II tahun 1954 diMedan, Sumatra Utara. Kemudian pada
tahun 1959 dirumuskan Ejaan Malindo tersebut. Sayangnya, Ejaan Malindo belum
sempat diterapkan dalam kegiatan sehari-hari karena saat itu terjadi
konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia.
d. Ejaan Yang Disempurnakan
(EYD)
Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
merupakan penyempurrnaan dari ejaan-ejaan sebelumnya. EYD diresmikan pada saat
pidato kenegaraan memperingati HUT Kemerdekaan RI XXVII, 17 Agustus 1972. Kemudian
dikukuhkan dalam Surat Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972. EYD ini hasil
kerja panitia ejaan Bahasa Indonesia yang dibentuk pada tahun 1966.
v Gabungan kata yang sudah dianggap
senyawa (satu kata) ditulis serangkai. Contohnya : Akhirulkalam, Assamualaikum,
hulubalang, matahari, dsb.
v Kata ganti ku, mu, kau, dan nya
ditulis serangkai dengan kata yang dimiliki.
Contohnya : kumiliki, dipukul, barangmu, pacarku, pacarnya, dsb.
Contohnya : kumiliki, dipukul, barangmu, pacarku, pacarnya, dsb.
v Kata depan di dan ke ditulis
terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contohnya :
Contohnya :
|
Bentuk
Benar
|
Bentuk
Salah
|
|
Di
surabaya
|
Disurabaya
|
|
Ke
singapura
|
Kesingapura
|
|
Di
kebun
|
Dikebun
|
|
Ke sini
|
Kesini
|
|
Ke sana
|
Kesana
|
|
Di sini
|
Disini
|
v Partikel pun terpisah dari kata yang mendahuluinya, kecuali pun yang
sudah menjadi kelompok kata.
Contohnya :
Contohnya :
a)
Kapan pun Aku tetap menantinya.
b)
Siapa pun orangnya, boleh
meminjam buku ini.
c)
Walaupun seribu tahun Aku tetap
menunggu. (walaupun adalah kelompok kata).
d) Meskipun demikian aku tak akan marah. (meskipun merupakan kelompok
kata).
v Penulisang si dan sang dipisahkan dari kata yang mengikutinya.
Contohnya :
Contohnya :
a)
Si penjual bakso bukan
sipenjual bakso.
b)
Si pengirim bukan sipengirim.
v Partikel per berarti tiap-tiap dipisahkan dari kata yang
mengikutinya.
Contohnya :
Contohnya :
a)
Per orang bukan perorang.
b)
Per lembar bukan perlembar.
c)
Per kilogram bukan perkilogram.
2.3 Pemakaian Tanda Baca
Dalam hal pembuatan
karangan ilmiah, kesalahan huruf dan tanda baca sering muncul. Dan di dalam
penulisan tanda baca sering sekali kita lupakan dan melakukan kesalahan dalam penulisanya.
Sehingga menjadikan karangan atau karya ilmiah kita menjadi sebuah karya yang
kurang baik karena ada kesalahan dalam penulisanya.
Dari berbagai kesalahan
itu, sebenarnya para penulis karya ilmiah mampu untuk membuat tulisanya, akan
tetapi mereka sering lalai dan ceroboh dalam penggunaan tanda baca. Karena
tanda baca selalu di anggap sepele dalam penggunaanya sehingga kadang
menjadikan kalimat itu menjadi rancu dan berbeda arti.
Suatu contoh kita ambil
kalimat “kucing makan tikus mati”. Dalam konteks kalimat ini jika tidak kita
beri pemisah tanda baca maka akan menjadikanya sulit untuk dipahamai. Dari
kalimat “kucing makan tikus mati” siapakah yang mati dalam konteks kalimat
ini?, akan tetapi apabila kita ganti konteks kalimat ini dengan pemberian tanda
baca seperti ini ”kucing makan, tikus mati”, siapakah yang mati dalam konteks
kalimat ini?, kemudian apabila kita gunakan konteks kalimat ini ”kucing makan
tikus, mati”, siapakah yang mati dalam konteks kalimat ini?.
Kucing makan tikus mati
adalah salah satu contoh kalimat yang banyak persepsi apabila kita salah
menggunakan tanda bacanya. Oleh karena itu, pemakaian tanda baca dalam
penyusunan kalimat sangat perlu untuk diperhatikan.
v Macam-macam tanda baca
·
Tanda titik ( . )
·
Tanda koma ( , )
·
Tanda titik dua ( : )
·
Tanda Tanya ( ? )
·
Tanda seru (!)
·
Tanda kurung ( (…) )
·
Tanda petik ganda ( “…” )
·
Tanda garis miring ( / )
·
Tanda elipsis
·
Tanda pisah
·
Tanda hubung
·
Tanda Kurung Siku ([...])
·
Tanda Penyingkat atau Apostrof
(‘)
v Fungsi tanda baca
·
Tanda Titik (.)
Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang
bukan pertanyaan atau seruan. Misalnya: Ayahku tinggal di Solo. Biarlah mereka duduk di
sana. Dia menanyakan siapa yang akan datang.
Tanda titik dipakai di belakang angka atau
huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Catatan:
Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.
Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka
jam, menit, dan detik yang menunjukan waktu dan jangka waktu. Misalnya: pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20
detik), 1.35.20 jam ( 1 jam, 35 menit, 20 detik), 0.20.30 jam (20 menit, 30
detik), 0.0.30 jam (30 detik).
Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan
tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka. Misalnya: Siregar,
Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltervreden: Balai Poestaka.
·
Tanda Koma (,)
Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur
dalam suatu perincian atau pembilangan. Misalnya: Saya membeli
kertas, pena, dan tinta.
Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.
Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat
setara yang satu dari kalimat serata berikutnya yang didahului oleh kata
sepertitetapi atau melainkan. Misalnya: Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.
Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak
kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya. Misalnya: Kalau hari
hujan, saya tidak akan datang. Karena sibuk, ia lupa akan
janjinya.
Tanda koma tidak dipakai
untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi
induk kalimatnya. Misalnya: Saya tidak akan datang kalau hari hujan. Dia lupa
akan janjinya karena sibuk. Dia tahu bahwa soal itu penting.
Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung
antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena
itu, jadi, lagi pula,meskipun begitu, akan tetapi. Misalnya:
... Oleh karena itu, kita harus hati-hati. ... Jadi, soalnya tidak semudah itu.
·
Tanda Titik
Dua (:)
Tanda titik dua dipakai
sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian. Misalnya, Ketua : Moch.
Achyar, Sekretaris : Tati Suryati, Bendahara : Noviana Pertiwi.
Tanda titik dua dipakai
(i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara surah dan ayat dalam
kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan. Misalnya: (v) Tempo, I
(34), 1971:7 (vi) Surah Yasin:9 (vii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup:
Sebuah Studi, sudah terbit. (viii) Marzuki dan Rudy W. 2006. Pembuatan Aneka
Kerupuk. Jakarta: Penebar Swadaya.
Titik dua dapat dipakai dalam teks drama
sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan. Misalnya,
Ayah : “Karyo, sini kamu!”, Karyo : (datang menghampiri) “Ada apa, Pak?”, Ayah
: “Tolong ambilkan sepatu hitam yang di atas lemari!”.
Titik dua dapat dipakai
pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Misalnya, Pak Adi mempunyai tiga orang anak: Ardi, Aldi, dan Asdi. Kita sekarang
memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
·
Tanda Tanya (?)
Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat
tanya. Misalnya, Kapan ia berangkat? Saudara tahu, bukan?
Tanda tanya dipakai di
dalam kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan kebenarannya.
Misalnya, Ia dilahirkan pada tahun 1983 (?). Uangnya sebanyak 10 juta rupiah
(?) hilang.
·
Tanda Seru
(!)
Tanda seru dipakai pada
akhir kalimat printah. Misalnya, Bersihkan kamar itu sekarang juga! Jangan
berisik!
Tanda seru dipakai pada
akhir ungkapan atau pernyataan yang menggambarkan kesungguhan,
ketidakpercayaan, ketakjuban, ataupun rasa emosi yang kuat. Misalnya, Alangkah
seramnya peristiwa itu! Indah sekali pemandangan alam ini! Merdeka!
·
Tanda Kurung
((...))
Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan. Misalnya, Komisi A telah selesai
menyusun GBPK (Garis-Garis Besar Program Kerja) dalam sidang pleno tersebut.
Tanda kurung mengapit keterangan atau
penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. Misalnya, Keterangan itu (lihat
Tabel 10) menunjukkan perkembangan per-ekonomian Indonesia lima tahun terakhir.
Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang
memerinci satu urutan keterangan. Misalnya, Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga
kerja dan (c) modal.
·
Tanda Petik (“...”)
Tanda petik mengapit petikan langsung yang
berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lainnya. Misalnya, “Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu
sebentar!” Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”
Tanda petik mengapit judul syair, karangan,
atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. Misalnya, Sajak “Berdiri Aku” terdaapat
pada halaman 5 buku itu. Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai
Prestasi di SMA” diterbitkan dalam harian Tempo.
Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang
kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. Misalnya, Saat ini ia sedang tidak
mempunyai pacar yang di kalangan remaja dikenal dengan “jomblo”. Karena warna
kulitnya, Budi mendapat julukan “si Hitam”.
·
Tanda Garis Miring (/)
Tanda garis miring dipakai
di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi
dalam dua tahun takwim. Misalnya, No. 12/PK/2005 Jalan Kramat III/10 Masa Bakti
2005/2006 Tahun Ajaran 2006/2007.
Tanda garis miring dipakai
sebagai pengganti kata atau, tiap. Misalnya, Laki-laki/Perempuan, 120 km/jam
·
Tanda Hubung
(-)
Tanda hubung menyambung
suku-suku kata dasar atau kata berimbuhan yang terpisah oleh pergantian baris.
Misalnya, Walaupun demikian, masih banyak yang ti-dak mematuhi peraturan
tersebut.
Industri tersebut dapat dikembangkan men-jadi industri padat karya.
Industri tersebut dapat dikembangkan men-jadi industri padat karya.
Tanda hubung menyambung
unsur-unsur kata ulang. Misalnya, Anak-anak, kupu-kupu, berulang-ulang, kemerah-merahan, mondar-mandir, sayur-mayur.
Tanda hubung menyambung huruf dari kata yang
dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal. Misalnya, p-a-n-i-t-i-a, 17-08-1945.
Tanda hubung dipakai untuk
merangkaikan kata dengan kata berikutnya atau sebelumnya yang dimulai dengan
huruf kapital, kata/huruf dengan angka, angka dengan kata/huruf. Misalnya, se-Indonesia, se-Jabodetabek, mem-PHK-kan, sinar-X, peringkat ke-2, S-1, tahun
50-an.
Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan
unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing. Misalnya, di-smash, pen-tackle-an.
·
Tanda Pisah
Tanda pisah membatasi
penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
Misalnya, Kemerdekaan bangsa itu––saya yakin akan tercapai––diperjuangkan oleh
bangsa itu sendiri.
Tanda pisah menegaskan
adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi
lebih jelas. Misalnya, Rangkaian temuan ini––evolusi,
teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom––telah mengubah konsepsi kita
tentang alam semesta.
Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan
atau kata dengan arti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’. Misalnya, 2004––2009, tanggal 1––10 Mei 2007, Jakarta––Bandung.
·
Tanda Elipsis
(...)
Tanda elipsis dipakai
dalam kalimat atau dialog yang terputus-putus. Misalnya, Kalau begitu ... ya,
ayo kita berangkat.
Tanda elipsis menunjukkan
bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan. Misalnya, ...
selanjutnya akan di bawa ke pengadilan. Ibu baru pulang ... pasar.
Catatan:
Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, maka perlu dipakai empat buah titik; tiga titik untuk menandai penghilangan teks dan satu titik untuk menandai akhir kalimat. Misalnya: Ibu baru pulang dari....
Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, maka perlu dipakai empat buah titik; tiga titik untuk menandai penghilangan teks dan satu titik untuk menandai akhir kalimat. Misalnya: Ibu baru pulang dari....
·
Tanda Kurung
Siku ([...])
Tanda kurung siku mengapit
huruf, kata, atau kelompok kata sebagai korekssi atau tambahan pada kalimat
atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu
menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah
asli. Misalnya, Sang Puteri men[d]engar
bunyi gemerisik.
Tanda kurung siku mengapit
keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung. Misalnya, Persamaan
kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman
35––38]) perlu dibentangkan di sini.
·
Tanda Penyingkat atau Apostrof
(‘)
Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan
bagian kata atau bagian angka tahun. Misalnya, Gunung pun ‘kan kudaki. (‘kan = akan)
17 Agustus ’45 (’45 = 1945).
17 Agustus ’45 (’45 = 1945).
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Ejaan ialah penggambaran
bunyi bahasa dengan kaidah tulis-menulis yang
distandardisasikan. Ejaan mempunyai fungsi, landasan pembakuan tata bahasa, landasan pembakuan kosakata dan peristrilahan dan alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia. Di samping itu, ejaan mempunyai fungsi praktis yaitu membantu pemahaman pembaca di dalam mencerna informasi yang disampaikan secara tertulis.
distandardisasikan. Ejaan mempunyai fungsi, landasan pembakuan tata bahasa, landasan pembakuan kosakata dan peristrilahan dan alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia. Di samping itu, ejaan mempunyai fungsi praktis yaitu membantu pemahaman pembaca di dalam mencerna informasi yang disampaikan secara tertulis.
Penggunaan
tanda baca perlu diperhatikan dalam penulisan karya tulis atau karya ilmiah. Masing
masing tanda baca memiliki aturan dan tata letak penggunaanya, sehingga kita
harus cermat dalam menggunakan tanda baca dan menempatkan tanda baca pada aturan
yang telah di tetapkan. Penggunaan ejaan yang disempurnakan (EYD) sangat
dibutuhkan dalam penulisan karya tulis ilmiah agar sebuah karya tulis ilmiah
tersebut dapat tersusun dengan baik dan mudah dipahami.
3.2 Saran
Perhatikan
kembali ejaan yang digunakan dalam sebuah penulisan, baik dalam karya tulis
berbentuk ilmiah ataupun tulisan cerita pendek biasa. Karena ejaan dapat
mempengaruhi makna dalam sebuah tulisan.
DAFTAR PUSTAKA

Ich bin Black Rambo von Grammy, ich arbeite im Grammy Camp, Meine Frau starb vor 6 Jahren und seit ich mich um meinen einzigen Sohn namens Clinton, einen Freund meines Rats, nach einer Frau zu suchen, auf meiner Suche traf ich Jennifer sie war und Englische Frau, Ich liebte sie so sehr, dass ich ihr alles geben konnte, was sie im Alter von 37 Jahren war, nach einiger Zeit der Dating war ich so sehr in sie verliebt, hatten wir einige Missverständnisse, und sie trennte sich von mir und ich flehte sie an, dass mein Sohn sie zurückrief, sagte sie nein, dass sie jemand anderen gefunden hat, und wir lieben uns so sehr, nachdem ich einen Artikel darüber gelesen habe, wie Dr. Lomi helfen kann, die zerbrochene Beziehung zurückzubringen. , Ich beschloss, einen Versuch zu geben, ich kontaktiere Dr. Lomi für Hilfe, er sagte mir, was zu tun, um meine Geliebte zurückzubringen, die ich tat, er tat die Gebete und Jennifer war zurück, sie liebt mich und schätzen mich mehr jetzt, und wir haben die beste Zeit unseres Lebens, Dr. Lomi bereiten auch einige natürliche Kräuter, die mich stark und gesund wieder jetzt machte ich fühle mich wie ein junger Mann Ich fühlte mich wie ein junger Mann Ich zufrieden sie sexuell sehr gut sind wir beide glücklich, kontaktieren Sie Dr. Lomi auf WhatsApp Nummer +2349034287285 oder mailen Sie ihm auf lomiultimatetemple@gmail.com HE HAT DIE BESTE LÖSUNG FÜR SIE.
ReplyDelete