KALIMAT EFEKTIF
DISUSUN OLEH
FENI SEPTIANI
23113404
3KB01
FAKULTAS ILMU KOMPUTER
JURUSAN SISTEM KOMPUTER
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. atas
karunianya kepada kita semua sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
tentang ragam bahasa indonesia ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih
jauh dari kata sempurna, namun penulis berharap makalah ini dapat memberikan
informasi bagi para pembaca.
Penulis sangat berterimakasih atas bantuan dari
orang-orang yang sudah membantu dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi pembaca yang membutuhkan informasi ini.
penulis
DAFTAR ISI
Kata pengantar.............................................................................................ii
Daftar
isi......................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................1
1.3 Tujuan....................................................................................................1
1.4
Manfaat..................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN............................................................................2
2.1 Pengertian Kalimat Efektif....................................................................2
2.2 Unsur Dan Ciri Kalimat Efektif............................................................2
2.3 Struktur Kalimat
Efektif.......................................................................6
BAB III PENUTUP....................................................................................7
3.1 Kesimpulan............................................................................................7
3.2 Saran......................................................................................................7
Daftar pustaka..............................................................................................iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kalimat efektif
merupakan kalimat yang digunakan untuk menyampaikan
pendapat/gagasan/ide dengan cara yang mudah untuk dipahami. Supaya kalimat yang
dibuat dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat, unsur kalimat yang
digunakan harus lengkap dan eksplisit. Artinya, unsur-unsur kalimat seharusnya
ada yang tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya, unsur-unsur yang seharusnya tidak
ada tidak perlu dimunculkan. Kelengkapan dan keeksplisitan semacam itu dapat
diukur berdasarkan keperluan komunikasi dan kesesuaiannya dengan kaidah (Mustakim,
1994:86).
Dalam karangan ilmiah
sering kita jumpai kalimat-kalimat yang tidak memenuhi syarat sebagai bahasa
ilmiah. Hal ini disebabkan oleh, antara lain, mungkin kalimat-kalimat yang
dituliskan kabur, kacau, tidak logis, atau bertele-tele. Dengan adanya
kenyataan itu, pembaca sukar mengerti maksud kalimat yang kita sampaikan karena
kalimat tersebut tidak efektif. Berdasarkan kenyataan inilah penulis tertarik
untuk membahas kalimat efektif dengan segala permasalahannya.[1]
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian
kalimat efektif?
2.
Apa unsur-unsur yang
ada pada kalimat efektif?
3.
Apa ciri-ciri
kalimat efektif?
4.
Apa syarat yang
mendasari kalimat efektif?
5.
Bagaimana
struktur kalimat efektif?
1.3
Tujuan
1.
Agar dapat menggunakan
bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
2.
Mengetahui apa
dan bagaimana penggunaan kalimat efektif.
3.
Menjaga
kemurnian bahasa Indonesia.
1.4
Manfaat
1.
Agar bisa
memahami penggunaan kalimat efektif.
2.
Agar kita bisa
menjaga budaya Bahasa Indonesia
3.
Mampu menerapkan
kalimat efektif dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat digunakan
untuk menyampaikan gagasan/pendapat/ide secara tepat sehingga dapat diterima
dengan maksud dan tujuan yang sebenarnya. Efektif
dalam hal ini adalah ukuran kalimat yang memiliki kemampuan menimbulkan gagasan
atau pikiran pada pendengar atau pembaca. Dengan kata lain, kalimat
efektif adalah kalimat yang dapat
mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pendengar/pembaca
dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan lengkap seperti apa
yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya.[2]
2.2 Unsur Dan Ciri Kalimat Efektif
Unsur kalimat
adalah fungsi sintaksis yang dalam buku-buku tata bahasa Indonesia lama lazim
disebut jabatan kata dan kini disebut peran kata dalam kalimat, yaitu subjek
(S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket). Kalimat
bahasa Indonesia baku sekurang-kurangnya terdiri atas dua unsur, yakni subjek
dan predikat. Unsur yang lain (objek, pelengkap, dan keterangan) dalam suatu
kalimat dapat wajib hadir, tidak wajib hadir, atau wajib tidak hadir.
A. Subjek
(S) adalah bagian kalimat menunjukkan pelaku, tokoh, sosok (benda), sesuatu
hal, suatu masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan. Subjek biasanya
diisi oleh jenis kata/frasa benda (nominal), klausa, atau frasa verbal. Untuk
lebih jelasnya perhatikan contoh sebagai berikut ini:
①. Ayahku sedang melukis.
②. Meja
direktur besar.
③. Yang
berbaju batik dosen saya.
④. Berjalan
kaki menyehatkan badan.
⑤. Membangun
jalan layang sangat mahal.
Dalam bahasa Indonesia,
setiap kata, frasa, klausa pembentuk S selalu merujuk pada benda (konkret atau
abstrak). Pada contoh di atas, kendatipun jenis kata yang mengisi S pada
kalimat (3), (4) dan (5) bukan kata benda, namun hakikat fisiknya tetap merujuk
pada benda. Bila kita menunjuk pelaku pada kalimat (3) dan (4), yang berbaju
batik dan berjalan kaki tentulah orang (benda). Demikian juga membangun jalan
layang yang menjadi S pada kalimat (5), secara implisit juga merujuk pada
“hasil membangun” yang tidak lain adalah benda juga.
Selain ciri di atas, S
dapat juga dikenali dengan cara bertanya dengan memakai kata tanya siapa
(yang)… atau apa (yang)… kepada P. Kalau ada jawaban yang logis atas pertanyaan
yang diajukan, itulah S. Jika ternyata jawabannya tidak ada dan atau tidak
logis berarti kalimat itu tidak mempunyai S. Inilah contoh “kalimat” yang tidak
mempunyai S karena tidak ada/tidak jelas pelaku atau bendanya.
①. Bagi
siswa sekolah dilarang masuk.
②. Di
sini melayani obat generic.
③. Memandikan
adik di pagi hari.
B. Predikat
(P) adalah bagian kalimat yang memberitahu melakukan (tindakan) apa atau dalam
keadaan bagaimana subjek (pelaku/tokoh atau benda di dalam suatu kalimat).
Selain memberitahu tindakan atau perbuatan subjek (S), P dapat pula menyatakan
sifat, situasi, status, ciri, atau jatidiri S. termasuk juga sebagai P dalam
kalimat adalah pernyataan tentang jumlah sesuatu yang dimiliki oleh S. predikat
dapat juga berupa kata atau frasa, sebagian besar berkelas verba atau adjektiva,
tetapi dapat juga numeralia, nomina, atau frasa nominal. Perhatikan contoh
berikut:
①. Kuda
meringkik.
②. Ibu
sedang tidur siang.
③. Putrinya
cantik jelita.
④. Kota
Jakarta dalam keadaan aman.
⑤. Kucingku
belang tiga.
⑥. Robby
mahasiswa baru.
⑦. Rumah
Pak Hartawan lima.
Kata meringkik pada
kalimat (1) memberitahukan perbuatan kuda. Kelompok kata sedang tidur siang
pada kalimat (2) memberitahukan melakukan apa ibu, cantik jelita pada kalimat
(3) memberitahukan bagaimana putrinya, dalam keadaan aman pada kalimat (4)
memberitahukan situasi kota Jakarta, belang tiga pada kalimat (5)
memberitahukan ciri kucingku, mahasiswa baru pada kalimat (6) memberitahukan
status Robby, dan lima pada kalimat (7) memberitahukan jumlah rumah Pak
Hartawan.
Berikut ini contoh
kalimat yang tidak memiliki P karena tidak ada kata-kata menunjuk pada
perbuatan, sifat, keadaan, ciri, atau status pelaku atau bendanya.
①. Adik
saya yang gendut lagi lucu itu.
②. Kantor
kami yang terletak di Jln. Gatot Subroto.
③. Bandung
yang terkenal kota kembang.
C. Objek
(O) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. objek pada umumnya diisi oleh
nomina, frasa nominal, atau klausa. Letak O selalu di belakang P yang berupa
verba transitif, yaitu verba yang menuntut wajib hadirnya O, seperi pad contoh
di bawah ini.
①. Nurul
menimang …
②. Arsitek
merancang …
③. Juru
masak menggoreng …
Verba transitif
menimang, merancang, dan menggoreng pada contoh tersebut adalah P yang menuntut
untuk dilengkapi. Unsur yang akan melengkapi P pada ketiga kalimat itulah yang
dinamakan objek. Jika P diisi oleh verba intransitif, O tidak diperlukan.
Itulah sebabnya sifat O dalam kalimat dikatakan tidak wajib hadir. Verba
intransitive mandi, rusak, pulang yang menjadi P dalam contoh berikut tidak
menuntut untuk dilengkapi.
①. Nenek
mandi.
②. Komputerku
rusak.
③. Tamunya
pulang.
Objek dalam kalimat
aktif dapat berubah menjadi S jika kalimatnya dipasifkan.
D. Pelengkap
(pel) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. letak Pelengkap umumnya di
belakang P yang berupa verba. Posisi seperti itu juga ditempati oleh O, dan
jenis kata yang mengisi Pel dan O juga sama, yaitu dapat berupa nomina, frasa
nominal, atau klausa. Namun, antara Pel dan O terdapat perbedaan. Perhatikan
cnntoh di bawah ini:
S
|
P
|
O
|
Pel
|
Ketua MPR
|
membacakan
|
Pancasila
|
-
|
Banyak orpospol
|
berlandaskan
|
-
|
Pancasila
|
Kedua kalimat aktif tersebut
yang Pel dan O-nya sama-sama diisi oleh
nomina Pancasila, jika hendak dipasifkan ternyata yang bisa hanya kalimat (a)
yang menempatkan Pancasila sebagai O. Sedangkan posisi Pancasila sebagai Pel
pada kalimat tidak bisa dipindah ke depan menjadi S dalam kalimat pasif. Hal
lain yang membedakan Pel dan O adalah jenis pengisinya. Selain diisi oleh
nomina dan frasa nominal, Pelengkap dapat juga diisi oleh frasa adjectival dan
frasa preposisional.
Selain itu, letak pelengkap
tidak selalu persis di belakang P. Apabila dalam kalimatnya terdapat O, letak
pel adalah di belakang O sehingga urutan penulisan bagian kalimat menjadi
S-P-O-Pel. Berikut adalah beberapa contoh pelengkap dalam kalimat.
①. Sutardji
membacakan pengagumnya puisi kontemporer.
②. Mayang
mendongengkan Rayhan Cerita si Kancil.
③. Sekretaris
itu mengambilkan atasannya air minum.
④. Annisa
mengirimi kakeknya kopiah bludru.
⑤. Pamanku
membelikan anaknya rumah mungil.
E. Keterangan
(ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal mengenai bagian
kalimat yang lainnya. Unsur Ket dapat berfungsi menerangkan S, P, O, dan Pel.
Posisinya bersifat bebas, dapat di awal, di tengah, atau di akhir kalimat.
Pengisi Ket adalah frasa nominal, frasa preporsisional, adverbia, atau klausa. Berdasarkan
maknanya, terdapat bermacam-macam Ket dalam kalimat. Para ahli membagi
keterangan atas Sembilan macam (Hasan Alwi dkk, 1998:366) yaitu seperti yang
tertera pada tabel di bawah ini.
No.
|
Jenis keterangan
|
Posisi/penghubung
|
Contoh
pemakaian
|
1
|
Tempat
|
Di
Ke
Dari
Pada
|
Di kamar, di kota
Ke Surabaya, ke rumahnya
Dari Manado, dari sawah
Pada permukaan
|
2
|
Waktu
|
-
Pada
Dalam
Se-
Sebelum
Sesudah
Selama
sepanjang
|
Sekarang, kemarin
Pada pukul 5 hari ini
Dalam 2 hari ini
Sepulang kantor
Sebelum mandi
Sesudah makan
Selama bekerja
Sepanjang perjalanan
|
3
|
Alat
|
dengan
|
Dengan pisau, dengan mobil
|
4
|
Tujuan
|
Supaya/agar
Untuk
Bagi
Demi
|
Supaya/agar kamu faham
Untuk kemerdekaan
Bagi masa depan
Demi orang tuamu
|
5
|
Cara
|
Secara
Dengan cara
Dengan jalan
|
Secara hati-hati
Dengan cara damai
Dengan jalan berunding
|
6
|
Kesalingan
|
-
|
Satu sama lain
|
7
|
Similatif
|
Seperti
Bagaikan
Laksana
|
Seperti angin
Bagaikan seorang dewi
Laksana bintang di langit
|
8
|
Penyebab
|
Karena
Sebab
|
Karena perempuan itu
Sebab kegagalannya
|
9
|
Penyerta
|
Dengan
Bersama
Beserta
|
Dengan adiknya
Bersama orang tuanya
Beserta saudaranya
|
Ciri-ciri dari kalimat efektif paling tidak harus
memiliki enam syarat dari syarat berikut agar dapat menjadi kalimat yang mampu
dipahami orang lain.
1)
Kesepadanan
2)
Keparalelan
3)
Ketegasan
4)
Kehematan
5)
Kecermatan
6)
Kepaduan
7)
Kelogisan
2.3 Struktur Kalimat Efektif
Struktur
kalimat efektif haruslah benar. Kalimat
itu harus memiliki kesatuan bentuk, sebab kesatuan bentuk itulah yang
menjadikan adanya kesatuan arti. Kalimat yang strukturnya benar tentu memiliki
kesatuan bentuk dan sekaligus kesatuan arti. Sebaliknya kalimat yang
strukturnya rusak atau kacau, tidak menggambarkan kesatuan apa-apa dan
merupakan suatu pernyataan yang salah.
Jadi,
kalimat efektif selalu memiliki struktur atau bentuk yang jelas. Setiap unsur
yang terdapat di dalamnya (yang pada umumnya terdiri dari kata) harus menempati
posisi yang jelas dalam hubungan satu sama lain. Kata-kata itu harus diurutkan
berdasarkan aturan-aturan yang sudah dibiasakan. Tidak boleh menyimpang, aalagi
bertentangan. Setiap penyimpangan biasanya akan menimbulkan kelainan yang tidak
dapat diterima oleh masyarakat pemakai bahasa itu.
Misalnya,
Anda akan menyatakan Saya menulis surat buat papa. Efek yang ditimbulkannya
akan sangat lain, bila dikatakan:
1)
Buat Papa
menulis surat saya.
2)
Surat saya
menulis buat Papa.
3)
Menuis saya
surat buat Papa.
4)
Papa saya buat
menulis surat.
5)
Saya Papa buat
menulis surat.
6)
Buat Papa surat
saya menulis.
Walaupun
kata yang digunakan dalam kalimat itu sama, namun terdapat kesalahan. Kesalahan
itu terjadi karena kata-kata tersebut (sebagai unsur kalimat) tidak jelas
fungsinya. Hubungan kata yang satu dengan yang lain tidak jelas. Kata-kata itu
juga tidak diurutkan berdasarkan apa yang sudah ditentukan oleh pemakai bahasa.
Demikinlah
biasanya yang terjadi akibat penyimpangan terhadap kebiasaan struktural
pemakaian bahasa pada umumnya. Akibat selanjutnya adalah kekacauan pengertian.
Agar hal ini tidak terjadi, maka si pemakai bahasa selalu berusaha mentaati
hokum yag sudah dibiasakan.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Kalimat efektif adalah kalimat yang paling efisien
untuk digunakan terutama dalam menyampaikan sebuah gagasan/pendapat/ide kepada
orang lain. Selain itu juga harus menggunakan urutan kalimat yang tepat supaya
tidak terjadi kesalahpahaman saat menyampaikan sebuah gagasan tersebut.
3.2
Saran
Sangat dianjurkan untuk berhati-hati dalam melakukan
pemilihan dan menyusun kata menjadi sebuah kalimat efektif serta harus
menghindari menggunakan kata-kata yang sulit dipahami. Karena kemungkinan besar
terjadi kesalahpahaman dalam sebuah komunikasi cukup besar yang dapat
mengakibatkan lawan bicara atau pembaca mengalami kesulitan untu memahami
maksud dan tujuan dari kalimat tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Finoza, Lamuddin. 2002.. Komposisi Bahasa Indonesia.
Jakarta: Insan Mulia.
Ali, Lukman dkk. 1991. Petunjuk Praktis Berbahasa
Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
[1] elma, Ufima.
2013. Makalah Bahasa Indonesia Kalimat Efektif.
kalimatefektif2013.blogspot.co.id
[2] elma, Ufima.
2013. Makalah Bahasa Indonesia Kalimat Efektif.
kalimatefektif2013.blogspot.co.id

No comments:
Post a Comment