Saturday, December 5, 2015

Tugas Bahasa Indonesia - Makalah Kalimat Efektif



KALIMAT EFEKTIF




DISUSUN OLEH
FENI SEPTIANI
23113404
3KB01


FAKULTAS ILMU KOMPUTER
JURUSAN SISTEM KOMPUTER
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015/2016




KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. atas karunianya kepada kita semua sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang ragam bahasa indonesia ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, namun penulis berharap makalah ini dapat memberikan informasi bagi para pembaca.
Penulis sangat berterimakasih atas bantuan dari orang-orang yang sudah membantu dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca yang membutuhkan informasi ini.

penulis



DAFTAR ISI
Kata pengantar.............................................................................................ii
Daftar isi......................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................1
1.1  Latar Belakang.......................................................................................1
1.2  Rumusan Masalah..................................................................................1
1.3  Tujuan....................................................................................................1
1.4  Manfaat..................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN............................................................................2
2.1 Pengertian Kalimat Efektif....................................................................2
2.2 Unsur Dan Ciri Kalimat Efektif............................................................2
2.3 Struktur Kalimat Efektif.......................................................................6
BAB III PENUTUP....................................................................................7
3.1 Kesimpulan............................................................................................7
3.2 Saran......................................................................................................7
Daftar pustaka..............................................................................................iv






BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kalimat efektif merupakan kalimat yang digunakan untuk menyampaikan pendapat/gagasan/ide dengan cara yang mudah untuk dipahami. Supaya kalimat yang dibuat dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat, unsur kalimat yang digunakan harus lengkap dan eksplisit. Artinya, unsur-unsur kalimat seharusnya ada yang tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya, unsur-unsur yang seharusnya tidak ada tidak perlu dimunculkan. Kelengkapan dan keeksplisitan semacam itu dapat diukur berdasarkan keperluan komunikasi dan kesesuaiannya dengan kaidah (Mustakim, 1994:86).
Dalam karangan ilmiah sering kita jumpai kalimat-kalimat yang tidak memenuhi syarat sebagai bahasa ilmiah. Hal ini disebabkan oleh, antara lain, mungkin kalimat-kalimat yang dituliskan kabur, kacau, tidak logis, atau bertele-tele. Dengan adanya kenyataan itu, pembaca sukar mengerti maksud kalimat yang kita sampaikan karena kalimat tersebut tidak efektif. Berdasarkan kenyataan inilah penulis tertarik untuk membahas kalimat efektif dengan segala permasalahannya.[1]

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian kalimat efektif?
2.      Apa unsur-unsur yang ada pada kalimat efektif?
3.      Apa ciri-ciri kalimat efektif?
4.      Apa syarat yang mendasari kalimat efektif?
5.      Bagaimana struktur kalimat efektif?

1.3  Tujuan
1.      Agar dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
2.      Mengetahui apa dan bagaimana penggunaan kalimat efektif.
3.      Menjaga kemurnian bahasa Indonesia.

1.4  Manfaat
1.      Agar bisa memahami penggunaan kalimat efektif.
2.      Agar kita bisa menjaga budaya Bahasa Indonesia
3.      Mampu menerapkan kalimat efektif dalam kehidupan sehari-hari.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kalimat Efektif
            Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat digunakan untuk menyampaikan gagasan/pendapat/ide secara tepat sehingga dapat diterima dengan maksud dan tujuan yang sebenarnya. Efektif dalam hal ini adalah ukuran kalimat yang memiliki kemampuan menimbulkan gagasan atau pikiran pada pendengar atau pembaca. Dengan kata lain, kalimat efektif  adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya.[2]

2.2 Unsur Dan Ciri Kalimat Efektif
            Unsur kalimat adalah fungsi sintaksis yang dalam buku-buku tata bahasa Indonesia lama lazim disebut jabatan kata dan kini disebut peran kata dalam kalimat, yaitu subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket). Kalimat bahasa Indonesia baku sekurang-kurangnya terdiri atas dua unsur, yakni subjek dan predikat. Unsur yang lain (objek, pelengkap, dan keterangan) dalam suatu kalimat dapat wajib hadir, tidak wajib hadir, atau wajib tidak hadir.
A.    Subjek (S) adalah bagian kalimat menunjukkan pelaku, tokoh, sosok (benda), sesuatu hal, suatu masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan. Subjek biasanya diisi oleh jenis kata/frasa benda (nominal), klausa, atau frasa verbal. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh sebagai berikut ini:
①.  Ayahku  sedang melukis.
②.  Meja direktur besar.
③.  Yang berbaju batik dosen saya.
④.  Berjalan kaki menyehatkan badan.
⑤.  Membangun jalan layang sangat mahal.
Dalam bahasa Indonesia, setiap kata, frasa, klausa pembentuk S selalu merujuk pada benda (konkret atau abstrak). Pada contoh di atas, kendatipun jenis kata yang mengisi S pada kalimat (3), (4) dan (5) bukan kata benda, namun hakikat fisiknya tetap merujuk pada benda. Bila kita menunjuk pelaku pada kalimat (3) dan (4), yang berbaju batik dan berjalan kaki tentulah orang (benda). Demikian juga membangun jalan layang yang menjadi S pada kalimat (5), secara implisit juga merujuk pada “hasil membangun” yang tidak lain adalah benda juga.
Selain ciri di atas, S dapat juga dikenali dengan cara bertanya dengan memakai kata tanya siapa (yang)… atau apa (yang)… kepada P. Kalau ada jawaban yang logis atas pertanyaan yang diajukan, itulah S. Jika ternyata jawabannya tidak ada dan atau tidak logis berarti kalimat itu tidak mempunyai S. Inilah contoh “kalimat” yang tidak mempunyai S karena tidak ada/tidak jelas pelaku atau bendanya.
①.  Bagi siswa sekolah dilarang masuk.
②.  Di sini melayani obat generic.
③.  Memandikan adik di pagi hari.

B.     Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberitahu melakukan (tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana subjek (pelaku/tokoh atau benda di dalam suatu kalimat). Selain memberitahu tindakan atau perbuatan subjek (S), P dapat pula menyatakan sifat, situasi, status, ciri, atau jatidiri S. termasuk juga sebagai P dalam kalimat adalah pernyataan tentang jumlah sesuatu yang dimiliki oleh S. predikat dapat juga berupa kata atau frasa, sebagian besar berkelas verba atau adjektiva, tetapi dapat juga numeralia, nomina, atau frasa nominal. Perhatikan contoh berikut:
①.  Kuda meringkik.
②.  Ibu sedang tidur siang.
③.  Putrinya cantik jelita.
④.  Kota Jakarta dalam keadaan aman.
⑤.  Kucingku belang tiga.
⑥.  Robby mahasiswa baru.
⑦.  Rumah Pak Hartawan lima.
Kata meringkik pada kalimat (1) memberitahukan perbuatan kuda. Kelompok kata sedang tidur siang pada kalimat (2) memberitahukan melakukan apa ibu, cantik jelita pada kalimat (3) memberitahukan bagaimana putrinya, dalam keadaan aman pada kalimat (4) memberitahukan situasi kota Jakarta, belang tiga pada kalimat (5) memberitahukan ciri kucingku, mahasiswa baru pada kalimat (6) memberitahukan status Robby, dan lima pada kalimat (7) memberitahukan jumlah rumah Pak Hartawan.
Berikut ini contoh kalimat yang tidak memiliki P karena tidak ada kata-kata menunjuk pada perbuatan, sifat, keadaan, ciri, atau status pelaku atau bendanya.
①.  Adik saya yang gendut lagi lucu itu.
②.  Kantor kami yang terletak di Jln. Gatot Subroto.
③.  Bandung yang terkenal kota kembang.

C.     Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. objek pada umumnya diisi oleh nomina, frasa nominal, atau klausa. Letak O selalu di belakang P yang berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut wajib hadirnya O, seperi pad contoh di bawah ini.
①.  Nurul menimang …
②.  Arsitek merancang …
③.  Juru masak menggoreng …
Verba transitif menimang, merancang, dan menggoreng pada contoh tersebut adalah P yang menuntut untuk dilengkapi. Unsur yang akan melengkapi P pada ketiga kalimat itulah yang dinamakan objek. Jika P diisi oleh verba intransitif, O tidak diperlukan. Itulah sebabnya sifat O dalam kalimat dikatakan tidak wajib hadir. Verba intransitive mandi, rusak, pulang yang menjadi P dalam contoh berikut tidak menuntut untuk dilengkapi.
①.  Nenek mandi.
②.  Komputerku rusak.
③.  Tamunya pulang.
Objek dalam kalimat aktif dapat berubah menjadi S jika kalimatnya dipasifkan.

D.    Pelengkap (pel) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. letak Pelengkap umumnya di belakang P yang berupa verba. Posisi seperti itu juga ditempati oleh O, dan jenis kata yang mengisi Pel dan O juga sama, yaitu dapat berupa nomina, frasa nominal, atau klausa. Namun, antara Pel dan O terdapat perbedaan. Perhatikan cnntoh di bawah ini:
S
P
O
Pel
Ketua MPR
membacakan
Pancasila
-
Banyak orpospol
berlandaskan
-
Pancasila

Kedua kalimat aktif tersebut yang Pel dan O-nya sama-sama diisi  oleh nomina Pancasila, jika hendak dipasifkan ternyata yang bisa hanya kalimat (a) yang menempatkan Pancasila sebagai O. Sedangkan posisi Pancasila sebagai Pel pada kalimat tidak bisa dipindah ke depan menjadi S dalam kalimat pasif. Hal lain yang membedakan Pel dan O adalah jenis pengisinya. Selain diisi oleh nomina dan frasa nominal, Pelengkap dapat juga diisi oleh frasa adjectival dan frasa preposisional.
Selain itu, letak pelengkap tidak selalu persis di belakang P. Apabila dalam kalimatnya terdapat O, letak pel adalah di belakang O sehingga urutan penulisan bagian kalimat menjadi S-P-O-Pel. Berikut adalah beberapa contoh pelengkap dalam kalimat.
①.  Sutardji membacakan pengagumnya puisi kontemporer.
②.  Mayang mendongengkan Rayhan Cerita si Kancil.
③.  Sekretaris itu mengambilkan atasannya air minum.
④.  Annisa mengirimi kakeknya kopiah bludru.
⑤.  Pamanku membelikan anaknya rumah mungil.

E.     Keterangan (ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal mengenai bagian kalimat yang lainnya. Unsur Ket dapat berfungsi menerangkan S, P, O, dan Pel. Posisinya bersifat bebas, dapat di awal, di tengah, atau di akhir kalimat. Pengisi Ket adalah frasa nominal, frasa preporsisional, adverbia, atau klausa. Berdasarkan maknanya, terdapat bermacam-macam Ket dalam kalimat. Para ahli membagi keterangan atas Sembilan macam (Hasan Alwi dkk, 1998:366) yaitu seperti yang tertera pada tabel di bawah ini.
No.
Jenis keterangan
Posisi/penghubung
Contoh pemakaian
1
Tempat
Di
Ke
Dari
Pada
Di kamar, di kota
Ke Surabaya, ke rumahnya
Dari Manado, dari sawah
Pada permukaan
2
Waktu
-
Pada
Dalam
Se-
Sebelum
Sesudah
Selama
sepanjang
Sekarang, kemarin
Pada pukul 5 hari ini
Dalam 2 hari ini
Sepulang kantor
Sebelum mandi
Sesudah makan
Selama bekerja
Sepanjang perjalanan
3
Alat
dengan
Dengan pisau, dengan mobil
4
Tujuan
Supaya/agar
Untuk
Bagi
Demi
Supaya/agar kamu faham
Untuk kemerdekaan
Bagi masa depan
Demi orang tuamu
5
Cara
Secara
Dengan cara
Dengan jalan
Secara hati-hati
Dengan cara damai
Dengan jalan berunding
6
Kesalingan
-
Satu sama lain
7
Similatif

Seperti
Bagaikan
Laksana
Seperti angin
Bagaikan seorang dewi
Laksana bintang di langit
8
Penyebab
Karena
Sebab
Karena perempuan itu
Sebab kegagalannya
9
Penyerta
Dengan
Bersama
Beserta
Dengan adiknya
Bersama orang tuanya
Beserta saudaranya

            Ciri-ciri dari kalimat efektif paling tidak harus memiliki enam syarat dari syarat berikut agar dapat menjadi kalimat yang mampu dipahami orang lain.
1)      Kesepadanan
2)      Keparalelan
3)      Ketegasan
4)      Kehematan
5)      Kecermatan
6)      Kepaduan
7)      Kelogisan
2.3 Struktur Kalimat Efektif
Struktur kalimat efektif  haruslah benar. Kalimat itu harus memiliki kesatuan bentuk, sebab kesatuan bentuk itulah yang menjadikan adanya kesatuan arti. Kalimat yang strukturnya benar tentu memiliki kesatuan bentuk dan sekaligus kesatuan arti. Sebaliknya kalimat yang strukturnya rusak atau kacau, tidak menggambarkan kesatuan apa-apa dan merupakan suatu pernyataan yang salah.
Jadi, kalimat efektif selalu memiliki struktur atau bentuk yang jelas. Setiap unsur yang terdapat di dalamnya (yang pada umumnya terdiri dari kata) harus menempati posisi yang jelas dalam hubungan satu sama lain. Kata-kata itu harus diurutkan berdasarkan aturan-aturan yang sudah dibiasakan. Tidak boleh menyimpang, aalagi bertentangan. Setiap penyimpangan biasanya akan menimbulkan kelainan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat pemakai bahasa itu.
Misalnya, Anda akan menyatakan Saya menulis surat buat papa. Efek yang ditimbulkannya akan sangat lain, bila dikatakan:
1)      Buat Papa menulis surat saya.
2)      Surat saya menulis buat Papa.
3)      Menuis saya surat buat Papa.
4)      Papa saya buat menulis surat.
5)      Saya Papa buat menulis surat.
6)      Buat Papa surat saya menulis.
Walaupun kata yang digunakan dalam kalimat itu sama, namun terdapat kesalahan. Kesalahan itu terjadi karena kata-kata tersebut (sebagai unsur kalimat) tidak jelas fungsinya. Hubungan kata yang satu dengan yang lain tidak jelas. Kata-kata itu juga tidak diurutkan berdasarkan apa yang sudah ditentukan oleh pemakai bahasa.
Demikinlah biasanya yang terjadi akibat penyimpangan terhadap kebiasaan struktural pemakaian bahasa pada umumnya. Akibat selanjutnya adalah kekacauan pengertian. Agar hal ini tidak terjadi, maka si pemakai bahasa selalu berusaha mentaati hokum yag sudah dibiasakan.



BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
            Kalimat efektif adalah kalimat yang paling efisien untuk digunakan terutama dalam menyampaikan sebuah gagasan/pendapat/ide kepada orang lain. Selain itu juga harus menggunakan urutan kalimat yang tepat supaya tidak terjadi kesalahpahaman saat menyampaikan sebuah gagasan tersebut.

3.2    Saran
            Sangat dianjurkan untuk berhati-hati dalam melakukan pemilihan dan menyusun kata menjadi sebuah kalimat efektif serta harus menghindari menggunakan kata-kata yang sulit dipahami. Karena kemungkinan besar terjadi kesalahpahaman dalam sebuah komunikasi cukup besar yang dapat mengakibatkan lawan bicara atau pembaca mengalami kesulitan untu memahami maksud dan tujuan dari kalimat tersebut.





DAFTAR PUSTAKA
Finoza, Lamuddin. 2002.. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Insan Mulia.
Ali, Lukman dkk. 1991. Petunjuk Praktis Berbahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
[1] elma, Ufima. 2013. Makalah Bahasa Indonesia Kalimat Efektif. kalimatefektif2013.blogspot.co.id
[2] elma, Ufima. 2013. Makalah Bahasa Indonesia Kalimat Efektif. kalimatefektif2013.blogspot.co.id

No comments:

Post a Comment