Thursday, May 22, 2014

In My Memory


Judul : In My Memory
Theme : Cinta Kasih
by : Feni Septiani


                Juni 2007, untuk pertama kalinya Nindya masuk ke sekolah yang jenjangnya lebih tinggi dari sebelumnya Sekolah Menengah Pertama (SMP). Nindya masuk di kelas VII-B dia menemukan banyak teman yang sangat asing dimatanya. Hampir dari mereka semua yang ada dikelas itu tidak ada yang menjadi teman dekatnya. Entah karena alasan apa tapi mereka memang tidak memiliki jalan pikiran yang sama dengannya.
                Pernah suatu hari Nindya di bully oleh salah satu temannya dengan cacian yang sangat menusuk hati. Tapi yang dilakukannya hanya diam dan pasrah, tentunya tidak membalas apa yang sudah dilakukan temannya terhadap dirinya. Dia hanya takut jika dia membalasnya maka dia tidak jauh berbeda dengan temannya. Suatu ketika kesabaran Nindya sudah berada dipuncaknya, dia benar-benar membalas bully-an temannya dengan kalimat yang jauh lebih menyakitkan. Dan temannya itu hanya bisa diam kemudian pergi dan tidak pernah komunikasi lagi dengannya.
                Juni 2008, untuk kedua kalinya Nindya masuk ke sekolah yang sama dengan status kelas yang berbeda yaitu VIII-G. Di kelas 8 ini Nindya berharap tidah sama seperti kelasnya dulu VII-B dan itu benar-benar terwujud. Nindya memiliki teman dekat bernama Icha, kemana-mana mereka selalu berdua. Pergi kekantin, mengerjakan tugas bersama dan yang lainnya sampai sekitar bulan Juli ada siswi baru yang masuk di kelas itu yang bernama Arum.
                Sejak awal Arum memang duduk disebelah Icha dan didepan Nindya , itu membuat Icha dan Nindya jauh lebih cepat akrab dengan Arum dan mereka justru menjadi teman yang sangat dekat. Libur sekolah karena adanya ujian nasional (UN) digunakan mereka bertiga untuk berlibur bersama. Dan mereka berlibur dirumah orang tua Icha yang berada di Parung (karena Icha tinggal dirumah uyutnya yang lebih dekat dengan sekolah).
                Pergi ke rumah orang tua Icha tentu saja tidak hanya bertiga karena Icha mengajak satu teman yang tinggal disebelah rumahnya untuk ikut mereka berlibur. Dan teman Icha adalah seorang teman yang dulunya adalah teman satu kelas Nindya di VII-B dan untungnya Nindya tidak memiliki masalah dengan temannya Icha itu. Sehingga itu tidak menjadi masalah untuk mereka.
                Selama di rumah orang tua Icha , Nindya Arum dan Amel sering melakukan hal-hal menyenangkan, seperti mencoba bereksperimen dengan bumbu dapur. Ya mereka akan memasak bersama. Makanan yang mereka buat adalah Nasi Goreng dan itu yang memasak hanya Icha Arum dan Amel, lalu apa yang dilakukan Nindya? Dia hanya membantu mempersiapkan apa yang dibutuhkan karena Nindya tidak bisa memasak.
                Setelah bereksperimen, saatnya untuk mencoba hasil eksperimen keempat perempuan ABG ini. Dari rasa ya lumayan enak meskipun standard, hanya saja tampilan dari nasgor itu terlalu gelap karena kebanyakan kecap dan nasinya juga terlalu lembek. Kenapa lembek? Karena disaat mereka memasak ternyata Arum menggunakan ulekan untuk menekan nasi itu. Tadinya dia bilang supaya rata tapi malah jadi terlalu lembek bahkan nasinya hampir hancur.
                Juni 2009 , untuk ketiga kalinya Nindya masuk ke sekolah yang sama dengan status kelas IX-E. Icha masuk di kelas IX-F dan Arum IX-G. Meskipun mereka bertiga sudah pisah kelas tapi mereka masih tetap berkomunikasi dengan baik, melalui sosial media facebook ataupun dengan pesan singkat (SMS).
                Di kelasnya yang baru Nindya menemukan lagi teman yang akrab dengannya. Mereka adalah Yana, Ida dan Rizky. Sebenarnya Nindya sudah kenal dengan Yana dari kelas 7 karena mereka satu ekskul di sekolah yaitu Pramuka. Sementara Rizky adalah teman satu kelasnya di kelas 8 yang baru menjadi sangat akrab dikelas 9. Dan Nindya baru mengenal Ida di kelas 9. Pertama kali kenal Ida image yang dilihat oleh Nindya , Ida adalah orang yang sangat hebat karena dia mampu menghitung perkalian yang rumit dengan cepat. Dan Ida selalu menjadi orang yang pertama menjawab pertanyaan sementara yang lain masih mencoret-coret kertas mereka.
                Nindya Yana Ida dan Rizky selalu pergi bersama saat ke kantin ataupun saat pergi Atletik di Lapangan Senayan. Saat semua siswa/i sedang mengikuti kelas tambahan (les) untuk menghadapi UN mereka berempat sempat terpecah belah karena kesalahpahaman. Berawal dari mereka berempat yang sedang bercerita tentang pasangan masing-masing kecuali Nindya dan Rizky yang memang tidak memiliki pasangan.
                Kami berempat sudah tahu dengan sifat masing-masing apalagi dengan sifat Yana yang memang mudah marah dengan suatu hal. Dan kesalahpahaman yang terjadi hanya karena mereka mengatakan bahwa pasangan Yana adalah anak kecil (karena pacar Yana adalah adik kelas mereka). Dan itu membuat Yana marah kepada mereka bertiga dan dia menjauh dari mereka.
                Awalnya Nindya juga kesal dengan Yana yang terlalu berlebihan karena becandaan dari yang lain terlalu dianggap serius. Tapi karena Nindya tidak suka jika diantara mereka ada kerenggangan akhirnya Nindya mengalah dengan mengatakan maaf terlebih dahulu. Lalu Nindya mengatakan kepada Yana bahwa semuanya adalah kesalahpahaman saja. Sehingga Nindya Ida Rizky dan Yana baikan kembali dan fokus dengan UN mereka.
                Mei 2010, disini semua siswa/i sibuk dengan melanjutkan kemana mereka dijenjang selanjutnya. Hasil ujian sudah keluar semua siswa/i juga sudah mengurus kemana mereka selanjutnya.
                Juni 2010, disini Nindya merasakan hal yang sama saat baru pertama kali memasuki sekolah barunya (SMP) dan tentunya menyandang status baru menjadi anak SMA (Sekolah Menengah Atas). Dan Nindya masuk di kelas X-5 dari 6 kelas.
                Didengar dari kelasnya saja mungkin sudah bisa menebak bagaimana isi dari kelas itu, dan itu benar saja. 10-5 adalah kelas yang paling terkenal, dengan siswa yang sangat sulit untuk diberi nasihat. Dan hampir semua guru membicarakan keaktifan yang melebihi batas yang ada di 10-5.
                Semua siswa yang beragama kristen ada di 10-5 kecuali satu orang yang ada di 10-4. Di 10-5 Nindya benar-benar merasa bahwa teman-temannya sangat menyenangkan. Tidak ada perbedaan dikelas. Semuanya sama ,kompak dalam segala hal dan mungkin bisa dibilang kompak juga dalam membuat guru menjadi darah tinggi jika dikelas mereka.
                Tapi entah kenapa semua cerita di 10-5 sangatlah menyenangkan sekalipun memang ada banyak hal yang sedikit melenceng. Mereka merencanakan acara jalan-jalan satu kelas dan mereka memilih pantai ancol.
                Saat pergi keancol ada dua season dan itu terjadi karena ada beberapa siswa yang tidak bisa ikut pada waktu yang sudah ditentukan. Sehingga dibuatlah season kedua untuk pergi jalan-jalan ke ancol, meskipun ada beberapa yang juga tidak ikut.
                Nindya ikut yang season kedua, semuanya sudah janjian akan berkumpul didepan sekolah tepat jam tujuh dan Nindya benar-benar sudah berada di depan sekolah jam 7. Namun dia tidak melihat tanda-tanda kehadiran teman-temannya.
                Menunggu sudah hampir setengah jam akhirnya ada juga temannya yang datang, namanya Vita. Mereka menunggu berdua sampai akhirnya lama kelamaan hampir semua yang akan ikut hari itu datang.
                Tepat jam 10 pagi sudah hampir semunya datang lalu mereka siap-siap untuk pergi ke ancol. Namun mereka harus menemui satu teman terlebih dahulu yang rumahnya memang searah dengan arah mereka yang akan pergi ke halte busway.
                Ternyata dirumah salah satu temannya yang bernama Abam , mereka masih harus menunggu beberapa orang lagi. Dan itu membuat Nindya dan beberapa yang lainnya yang sudah datang tepat waktu menjadi semakin kesal dengan sikap temannya yang sangatlah kekanak-kanakan menurutnya.
                Tepat jam 12 siang mereka akhirnya benar-benar berangkat. Dengan hati yang sangat kesal Nindya tetap ikut teman-temannya berjalan kearah halte. Mereka sampai di ancol mungkin sekitar jam 1 atau 1.30 karena jalanan sangat macet.
                Mereka mulai mencari tempat untuk bersantai dan menikmati ombak pantai atau hanya untuk melihat yang lain melakukan aktifitas mereka. Dan hari itu pantai kebetulan sedang ramai dan itu membuat mereka agak sedikit susah untuk menemukan tempat untuk beristirahat.              
                Mereka yang sudah ikut diseason satu memberi usul untuk menggunakan tempat yang sebelumnya mereka gunakan. Dan teman yang lain langsung setuju, tempat yang dimaksud adalah dipinggir pantai tepat disamping jembatan.
                Ada yang bermain dipantainya sehingga baju mereka basah. Namun Nindya dan beberapa yang lain lebih memilih menikmati apa yang mereka lihat dipantai. Menikmati indahnya pantai memang sangat menyenangkan.
                Mereka semua melihat matahari terbenam sebelum pulang dan itu sangat indah terutama bagi Nindya yang mungkin baru pertama kali melihat matahari terbenam secara langsung seperti itu. Hari sudah semakin malam dan mereka pergi ke halte untuk pulang dan dihalte terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
                Ada seorang yang mengikuti mereka sejak mereka naik ke busway dan itu membuat laki-lakinya membuat formasi yang bisa dibilang seperti perisai. Semua teman laki-laki berdiri disekeliling perempuan. Dan itu adalah salah satu tindakan yang sangat menunjukkan bahwa mereka saling perduli satu sama lain terhadap teman.
                Begitu kita semua lolos dari seseorang yang mengintai kami sialnya kami malah masuk ke bus yang didalamnya ada bencong. Pantas saja bus terasa sedikit lebih sesak dibagian depan dan longgar dibagian belakang, ternyata bencong itu ada dibagian belakang bus dan itu membuat laki-laki yang ada disana sangat terganggu.
                Nafas lega dikeluarkan oleh kami semua saat kami sudah ada ditujuan kami. Halte pemberintian kami sudah seperti penolong bagi kami. Karena setidaknya kami sudah bisa lolos dari dua makhluk yang sangat menyeramkan (pengintai dan bencong). Semuanya mulai berpencar pulang kerumah masing-masing. Dan Nindya tidak akan pernah melupakan pengalaman menegangkan, lucu dan seru menurutnya.
                Dikelas ada seorang perempuan yang bisa dibilang sangat ideal. Dia cantik, tinggi dan badannya juga tidak terlalu kurus ataupun gemuk, namanya Olla. Dia adalah teman Nindya yang awalnya Nindya pikir Olla adalah seorang yang sombong. Ternyata Nindya salah , Olla adalah orang yang ramah dan sangat patuh dengan agamanya. Dia selalu membawa Al-Kitab nya kemanapun dia pergi, termasuk saat kita mau mengerjakan tugas kelompok dirumah Lia. Dan jika hari natal tiba dia akan sibuk dengan acara di gerejanya. Karena dia akan mengisi pentas drama yang menunjukan kelahiran jesus.
                Tapi , balum ada satu semester Olla harus pindah sekolah dan tidak tanggung-tanggung dia dan keluarganya pindah ke medan. Itu membuat Nindya merindukan sosok Olla yang memang sangat baik dan ramah itu. Dikelas tidak ada Olla rasanya aneh karena dia adalah ketua kelas 10-5. Walaupun dia perempuan tapi kami sepakat memilihnya menjadi ketua karena dia bertanggung jawab. Dan sekarang sosok sepertinya sudah tidak terlihat didepan mata lagi.
                Memasuki semester dua di kelas 10 dan semua siswa sudah mulai memfokuskan kejurusan mana mereka selanjutnya IPA atau IPS. Kenapa hanya ada dua pilihan? Itu karena di SMA Nindya hanya menyediakan IPA dan IPS sementara untuk Bahasa tidak dibuka karena kurang peminatnya sehingga tidak bisa membuka meskipun hanya satu kelas saja.
                Nindya memilih IPA dan itu sudah diputuskannya jauh sebelum dia masuk ke SMA. Karena dia suka dalam melakukan perhitungan dengan angka rumit dan bergelut dengan rumus matematika, kimia ataupun fisika. Ditambah lagi dia sangat tertarik untuk mencoba yang namanya membelah kodok. Dia merasa itu sesuatu yang menyenangkan meskipun menjijikan bagi beberapa orang.
                Juni 2011, disinilah Nindya disebuah kelas yang memang ini adalah kelas idamannya XI-IPA-1. Kelas IPA terbagi menjadi dua dan 4 kelas sisanya adalah IPS. Nindya sedikit kaget begitu dia mengetahui dia satu kelas dengan teman SMPnya yang juga dulu pernah satu kelas di kelas 8. Namanya adalah Cinta.
                Cinta adalah teman satu kelas Nindya di SMP saat mereka kelas 8. Cinta siswa yang pintar menurut Nindya dan Cinta juga seseorang yang bisa dibilang menyebalkan bagi Nindya saat SMP. Tapi justru Nindya dan Cinta malah berteman baik dan mereka duduk bersebelahan dikelas.
                Lalu dikelas mereka sempat dihebohkan sedikit dengan ketidakhadiran salahsatu teman perempuan dikelas yang bernama Nur. Nur sudah hampir tidak pernah masuk sekolah dan tidak ada yang tau kenapa  Nur tidak masuk. Sampai-sampai guru turun tangan untuk mencari tahu kenapa Nur tidak masuk-masuk kesekolah.
                Dan ternyata Nur tidak masuk sekolah karena keluarga Nur tidak sanggup membayar uang sekolah. Hingga akhirnya pihak sekolah membantu Nur dan memberikan beasiswa kepada Nur. Nur selalu dinasehati oleh guru mereka yang sangat perhatian terhadap muridnya yaitu Bu Alimah.
                Disekolah ada dua guru yang bernama Halimah tapi guru yang kita maksud adalah guru fisika yang bernama Alimah. Jadi , agar tidak salah saat mencari Bu Alimah, semua anak IPA memanggilnya dengan sebutan Bu Al. Bu Al juga mengatakan kepada teman-teman dikelas untuk membantu Nur belajar karena Nur sudah banyak ketinggalan pelajaran. Dan disitu Nindya , Cinta mulai dekat dengan Nur. Mereka kemana-mana selalu bertiga, kekantin , mengerjakan tugas ataupun hal lainnya.
                Tapi mereka tidak selalu bertiga, biasanya mereka akan membicarakan tugas atau melakukan hal gila untuk menghilangkan kepenatan dengan teman yang lainnya. Ada Tika, Nufus, Dini, Laisli dan Hawa. Mereka akan berdebat dengan serunya mengenai pelajaran terutama matematika dan fisika.
                Tapi terkadang mereka akan melakukan hal gila yang mungkin orang-orang akan tidak percaya jika mereka melakukan hal itu. Ya untuk melepas kepenatan dari belajar yang menyita waktu mereka pastinya. Hal-hal gila yang mereka lakukan biasanya melakukan hal konyol yang akan mengundang tawa.
                Mereka juga akan makan siang bersama saat istirahat jam 12 siang. Makanan favorite yang suka mereka bawa adalah Tika dengan mie jawanya, Dini dengan makanan yang dibuatkan oleh ibunya, Laisli dengan mie gorengnya, Cinta dan Nufus dengan masakan buatan ibunya juga, Nur dan Nindya dengan makanan warteg dan biasanya Nindya akan membawa kentang yang diiris panjang-panjang, sementara Hawa biasanya akan membeli makanan dikantin dan memakannya bersama dikelas.
                Setelah itu mereka akan membagi lauk yang mereka bawa satu sama lain. Dan biasanya Dini yang makanannya sudah tinggal setengah saat yang lain baru membuka bekal mereka. Kenapa bisa begitu, karena Dini pasti akan memakan bekalnya saat jam pelajaran. Dan saat ditanya kenapa makannya jam pelajaran dia pasti menjawab “makanannya menggoda”.
Kalau pulang sekolah Nindya pasti akan pulang bersama Dini, Tika dan Laisli karena arah pulang mereka sama meskipun nantinya akan berpencar juga. Sementara Cinta selalu pulang dengan Nur karena rumah mereka juga searah. Dan hawa pulang dengan temannya yang ada di IPA-2. Sementara Nufus dia pulang dengan temannya dari kelas lain tapi karena dia pindah rumah dan rumahnya searah dengan arah pulang Nindya dan yang lain. Nufus jadi pulang bareng Nindya dan yang lainnya juga.
                Ada tugas dari guru Bahasa Indonesia, dia meminta kita siswanya membuat sebuah film pendek. Kelompok Nindya sudah bisa diperkirakan pasti akan ada Cinta , Nur , Hawa, Dini dan Tika sementara Laisli berada dikelompok lain. Dan Nindya menambah satu laki-laki dikelompoknya , namanya Ifan.
                Tugas ini sangat menyita waktu, karena mereka akan pulang malam untuk menyelesaikan shooting mereka untuk satu hari itu. Dan banyak hal lucu yang terjadi saat proses shooting. Hari pertama shooting di rumah Dini semuanya hadir kecuali Hawa dan Tika karena Tika rumahnya jauh sedangkan Hawa tidak diijinkan untuk pulang sore atau malam.
                Dirumah Dini, dia menyiapkan lontong untuk sajian tamu (kami yang datang kerumah Dini) dan saat akan memakannya tiba-tiba Ifan mengatakan “yang ini buat gue,yang ini buat nyokap,yang ini buat bokap, yang ini buat adek gue” sambil menunjuk lontong yang jumlahnya lebih dari 4. Begitu mendengar kalimat Ifan, semua yang ada diruangan tamu rumah Dini langsung tertawa dengan kencang. Karena kelakuan bodoh yang dilakukan Ifan, padahal ifan adalah siswa paling pintar disekolah. Jadi sangat kaget begitu tau tenyata Ifan orang yang bisa dibilang konyol bahkan sangat konyol.
                Dan semuanya juga akan banyak tertawa saat proses pengambilan gambar dimulai. Karena semuanya yang dilakukan akan mengundang tawa dan itu sangat menyulitkan untuk bisa mendapatkan hasil yang lumayan bagus. Tapi semuanya tetap bekerja keras dan fokus untuk dapat menyelesaikan tugas kelompok ini.
                Saat film kelompok Nindya akan diputar , Nindya dan yang lainnya tegang bercampur malu karena akan memperlihatkan diri mereka sendiri yang sedang berakting. Saat film selesai mulailah sesi tanya jawab baik itu pertanyaan yang memojokkan kelompok Nindya atau suatu pujian yang dapat membuat kelompok Nindya menjadi tenang.
                Film yang dibuat kelompok Nindya banyak mendapatkan masukan (saran) dan juga pujian karena ada bebapa scene yang bisa membuat kelas menjadi tertawa. Dan itu semua dianggap sebagai sebuah pembelajaran bagi Nindya dan kelompoknya. Dan tentunya pengalaman yang tidak terlupakan.
                Juni 2012, Nindya memasuki kelas 3 di XII-IPA-1. Disini Nindya menemukan teman baru yang belum dia lihat karena mereka ada dikelas XI-IPA-2 dulunya. Meskipun ada beberapa yang /nindya kenal tapi ada juga yang /tidak dikenalnya.
                Di XII-IPA-1 Nindya satu kelas lagi dengan Nur, Dini , Tika dan Laisli. Dan ada teman baru yang memang sudah dikenal Nindya sebelumnya Siti dan Iva. Kelas 3 ini disibukkan mereka dengan banyak kegiatan untuk memperdalam materi mereka yang akan menempuh ujian nasional.
                Memang di semester pertama ini mereka belum disibukkan dengan berbagai macam les dan soal-soal try out dan itu membuat mereka melakukan kegiatan lain yang bisa dibilang cukup menyita waktu mereka dengan berfoto untuk buku tahunan sekolah (BTS).
                Setiap kelas memiliki tema masing-masing untuk foto kelas mereka. Dan kelas Nindya memilih tema casual yang memiliki tempat untuk berfoto di salah satu dipo pemberhentian kereta. Semua teman-teman mulai mengumpulkan uang untuk acara mereka tersebut. Dan untuk urusan mecari EO dan segala macamnya sudah ada panitia yang mengurus itu.
                Sebelum berfoto tiap kelas , BTS dimulai dengan memfoto guru yang mengajar di sekolah. Dilanjutkan dengan memfoto anggota yang mengikuti ekstrakulikuler dan angket yang dibuat oleh panitia untuk melihatkan siapa yang mungkin paling dikenal disatu sekolah itu.
                Untuk foto satu kelas itu, sudah ada jadwalnya sendiri-sendiri yang ditetapkan dan kebetulan kelas Nindya menjadi kelas kedua dari belakang untuk melakukan foto. Nindya dan teman yang lain menggunakan pakaian yang belum pernah Nindya lihat sebelumnya. Dan juga model rambut dan kerudung yang berbeda dari biasanya.
                Bahkan Nindya sempat dibilang cantik oleh salah satu temannya dan dia juga memuji teman yang lain. Memang hari itu semua teman dikelasnya termasuk dia menggunakan pakaina yang memang memperlihatkan perbedaan yang sangat jauh dari biasanya. Ditambah lagi dengan make-up yang mereka gunakan membuat mereka terlihat semakin cantik,tampan dan keren.
                Proses dilakukan sejak pagi menjelang siang dan berakhir disore hari. Untuk mendapatkan foto yang sangat indah dan sesuai dengan keinginan memang membutuhkan banyak waktu bukan. Setelah selesai semuanya mulai membersihkan make-up yang ada diwajah mereka terlebih dahulu dan mengganti pakain ke pakaian sehari-hari dan barulah mereka pulang untuk istirahat dari hari yang melelahkan itu.
                Foto BTS selesai sekarang mereka memasuki semster dua dimana mereka akan disibukkan dengan soal-soal try out dan les tambahan untuk memaksimalkan hasil ujian nasional mereka. Try out pertama kedua dan ketiga Nindya mendapatkan nilai yang kecil namu  dengan kurva yang naik dan pada try out keempat nilainya jauh lebih baik dari try out sebelumnya. Tapi tetap saja itu membuat Nindya tidak bisa tenang karena menurut Nindya nilainya masih jauh dari kata lumayan.
                Dan itu membuat Nindya belajar lebih giat lagi dan banyak bertanya kepada guru dan temannya yang menurutnya mampu membantunya. Hal itu tidak hanya dilakukan oleh Nindya tapi semua teman Nindya bahkan satu sekolah angkatan mereka melakukan hal yang sama namun dengan cara mereka masing-masing.
                Hari terus berganti hari dan hari untuk menuju ujian nasional pun semakin dekat. Nindya tidak mau terlalu memaksakan otaknya dengan terus-terusan belajar karena menurutnya itu hanya akan membuat apa yang sudah dipelajari Nindya akan sia-sia karena itu pasti akan menggangunya pada saat ujian berlangsung karena terlalu stress.
                Hari pertama ujian nasional pun datang, Nindya entah mengapa merasa sedikit gugup tapi dia memilih untuk menenangkan dirinya dengan mengobrol dengan temannya atau melakukan hal lain. Terkadang dia juga membaca bukunya kembali jika ada beberapa materi yang dia sedikit lupa.
                Semua siswa memasuki ruang ujian dan diawasi dengan guru penjaga yang mereka tidak kenal sama sekali. Nindya mulai dengan berdoa dan membaca baik-baik satu persatu soal yang ada di atas mejanya itu. Dan begitu seterusnya sampai hari terakhir unjian nasional.
                Nindya merasa sangat lega setelah menyelesaikan tugasnya sebagai siswa yang sudah mengikuti ujian nasional. Dia benar-benar pasrah dengan hasilnya dan dia berdoa semoga semuanya sesuai dengan keinginannya. Atau setidaknya berjalan dengan baik.
                Mendaftarkan diri pada SNMPTN undangan sepertinya Nindya tidak terlalu minat tapi dia mencoba untuk tetap ikut agar dia bisa masuk perguruan tinggi negeri. Tapi memang belum jodoh masuk PTN negeri melalui jalur SNMPTN undangan Nindya mencoba mengikuti ujian SBMPTN ujian yang dilakukan serentak bersama-sama diseluruh indonesia itu untuk bisa melanjutkan ke perguruan tinggi negeri. Dan ternyata Nindya memang tidak jodoh dengan PTN sehingga dia mencoba mendaftarkan dirinya di PTS (perguruan tinggi swasta) dan ternyata Nindya diterima di salah satu PTS yang cukup bagus.
                Nindya menyukuri apa yang sudah ia dapat sekarang meskipun tidak didapatkannya di PTN tapi setidaknya dia lebih beruntung dari beberpa temannya yang tidak bisa melanjutkan kuliah pada tahun itu. Dan September 2013 Nindya sudah mulai melalui hari-harinya dengan menyandang gelar mahasiswa.



@fenipenot



No comments:

Post a Comment